Monday, January 14, 2008

Perkara (dari pada) Soeharto!

Elit politik dan penguasa kita heboh.
Lagi-lagi mereka mendapat panggung baru di luar kamar perawatan Soeharto yang penuh dengan nyamuk pers. Inilah teater politik paling anyar di awal tahun baru. Sakitnya Soeharto kali in begitu dramatis, persis kisah sinetron yang ditunggu-tunggu ibu rumah tangga untuk mengisi waktu. Tetapi bagi elit dan selebritis politik ini adalah sebuah momen "masuk TV" (meminjam istilah Tukul), gratis dan punya efek tertentu.

Bagi para pendukung Soeharto ini adalah kesempatan menunjukkan loyalitas vertikal, disamping tentunya mencoba mengail pengaruh dari sisi horizontal dan jika mungkin ke bawah. Banyak yang muncul karena utang budi, ikut menikmati kuasa dan uang selama orde baru. Ada pula yang berharap mendapat cipratan asset maupun proyek politik saat klan Soeharto memikirkan bagaimana mereka survive pasca meninggalnya sang empu. Maklum, Soeharto dan jaringannya mempunyai sumber daya yang sangat luas dan semuanya perlu dipertahanken maupun diselamatken daripada segala tikus-tikus yang menghadang. Menarik melihat bagaimana dinasti Soeharto menyusun strategi survival.

Sakitnya Soeharto juga kesempatan emas buat pihak berkuasa, katakanlah SBY-JK dan mesin pemerintahan serta politiknya. Berbuih-buih SBY berbicara dalam konferensi pers resmi kepresidenan untuk menunjukkan betapa dia peduli dengan kesehatan dan masalah hukum sang maestro yang tak berdaya itu. Seketika, semua orang yang menghujat perilaku kekuasaan atau korban Soeharto menjadi seperti pesakitan. Mendadak penegakan hukum dan pemberantasan korupsi menjadi "bukan agenda prioritas pemerintah"saat ini. Entah apa agenda politik yang tersimpan di balik wajah serius sang presiden saat itu. Apapun itu, yang jelas menurut saya adalah blunder yang tidak perlu. SBY gagal merekam dan mengartikan gugatan publik terhadap Soeharto selama ini. Seolah-olah semuanya semata-mata karena dendam atau sikap sirik. Dia lupa jutaan orang yang tertindas, terpinggirkan dan berdarah-darah selama masa kekuasaan sang diktator. Dia lupa kekayaan negara yang terkuras, alam yang porak poranda karena penghisapan dan pengabaian dan seterusnya. Mungkin inilah cara SBY untuk mengambil hati para pengikut dan pengagum Soeharto.

Kita mendengar banyak orang bicara perlunya memaafkan Soeharto, agar kita ingat dan bersyukur atas jasa-jasanya. Mungkin orang-orang ini lupa bahwa dosa sang jendral bintang lima tak kalah luar biasa, bahkan mungkin lebih. Orang lupa bahwa Soeharto berjasa karena dia duduk sebagai presiden. Untuk posisi itu dia sudah mendapatkan segalanya sesuai kepatutan, bahkan mungkin lebih dari sekedar patut. Anak-anak dan kroninya kaya raya, berkuasa dan bisa berbuat apapun. Nah, yang belum terjadi adalah mempertanggung jawabkan bagian yang buruk dari perilaku dan kebijakan selama dia berkuasa. Soeharto harus menjalani proses hukum sebagaimana layaknya warga negara yang lain. Ini menjadi penting sebagai tonggak awal reformasi. Tidak ada reformasi yang otentik tanpa mengurai akar kebusukan orde baru, yakni perilaku kekuasaan dan kebijakan orde baru. Pohon baru hanya bisa tumbuh kalau akar yang busuk itu sudah diangkat keluar. Jika Soeharto dan mesin kekuasaan orde baru telah mempertanggung jawabkan perbuatannya, barulah dimungkinkan rekonsiliasi nasional. Membuat peta jalan baru untuk Indonesia ke depan. Inilah yang tidak terjadi sehingga reformasi mati suri dan para penikmat orde baru bisa kembali berjaya.

Jika hanya soal kemanusiaan, Soeharto bisa dimaafkan dengan amnesti (jika terbukti bersalah!). Tetapi menghentikan proses hukumnya adalah dosa sejarah yang termaafkan. Kita tidak bisa membiarkan penguasa dan mantan penguasa lepas dari jeratan hukum dan berharap rakyat percaya pada sistem hukum yang kita miliki. Korea Selatan bisa maju dengan langkah ini, demikian juga Afrika Selatan. Masa lalu harus diputus dengan membongkar akarnyanya yang busuk. Memaafkan Soeharto tanpa proses hukum dan keterbukaan hanya akan menjadikan kita bahan tertawaan. Membuat sejarah penuh dengan dendam, misterius dan bisik-bisik. Bangsa yang penuh luka seperti ini akan sulit bergerak maju.

Saya berdoa agar Soeharto tetap hidup sampai kasus hukumnya dituntaskan.
Posted by erland at 14:17:13 | Permanent Link | Comments (3) |
Comments
profile
1 - Salam kenal kembali buat bang Deddy, sebenarnya aku udah lama kenal bang Deddy. Tepatnya sekitar 10 tahun yang lalu. Tapi mungkin abang udah lupa.

Aku Ned Dina Purba, yang sempat dekat dengan keluarga Abang di Siantar. Kebetulan Orangtuaku juga bergerak dibidang yang sama dengan abang. Mungkin abang juga kenal dengan Ned Purba yang domisilinya sampe sekarang di Pematang Siantar. Sempat di Walhi juga.

Bang, ternyata kerja keras abang berbuah juga sekarang, apalagi kalo melihat kebelakang 10 tahun yang lalu, selalu kudengar setiap kali datang ke jalan kertas kalo Namboru selalu membanggakan abang didepan ku ataupun diteman2nya.

Aku bisa lihat itu dari tulisan-tulisan yang ada di blog abang ini. Tulisan yang padat berisi dan bisa mengutak-atik pembacanya. Hehehe...

Maju terus bang, sukses selalu

-Ned Dina Purba- (Comment this)

Written by: Dina at 2008/03/02 - 12:36:14
profile
2 - Wah, tentu saja saya masih ingat. Apalagi dengan orangtua kamu. Saya dengar kamu sekarang di Jakarta. Sukses juga buat kamu ya!


deddy (Comment this)

Written by: erland at 2008/03/18 - 13:17:04
3 - Yah sayang Bang, Soeharto sudah keburuan mati sebelum kasusnya terselesaikan... (Comment this)

Written by: Anonymous at 2008/04/24 - 03:00:34
Write a comment