Pemilu dan Masa Depan Politik Kita
Hari ini kita masuk dalam masa tenang Pemilu 2009. Setelah hiruk pikuk kampanye yang gegap gempita di berbagai tempat, lengkap sudah polusi politik mewarnai domain publik kita. Cukup lama kita dibuat terganggu dengan berbagai materi promosi/alat peraga yang dipancang atau ditempel di berbagai tempat. Tidak saja karena penempatan yang tidak mengindahkan estetika karena ditempatkan sembarangan, juga isinya yang tak memberikan banyak pencerahan atau informasi yang cukup agar kita semua bisa menjadi pemilih yang cerdas.
Inilah ritual lima tahunan yang harus kita biasakan. Dengan diberlakukannya sistem first past the post di dalam party list, atau lebih dikenal dengan sistem suara terbanyak maka tak ayal semua caleg merasa mendapat kesempatan yang sama. Di satu sisi, ini adalah hal yang positif sebab otoritas partai semakin berkurang dan membuka peluang bagi caleg populer yang tidak memiliki akses luas kepada elit parpol. Tetapi di sisi lain, hal ini juga menimbulkan potensi konflik yang besar dan membuka peluang bagi money politics yang meluas. Pragmatisme caleg bertemu dengan pragmatisme pemilih dalam transaksi pasar politik yang super liberal.
Akan tetapi begitupun, kekhawatiran akan rendahnya partsipasi politik masyarakat tetap mengemuka. Kelompok masyarakat yang apatis dan pesimis meningkat seiring dengan menguatnya persepsi irrelevansi pemilu dan parpol dengan kehidupan dan kepentingan utama pemilih. Demotivasi pemilih juga berasal dari kerumitan cara memberikan suara, kisruhnya Daftar Pemilih Tetap dan hingar bingar propaganda para caleg dan parpol. Ini masih diperberat lagi dengan kecenderungan media massa untuk bicara hal-hal buruk tentang pemilu, penyelenggara dan kontestannya. Pendek kata, situasi kita memberikan lahan yang baik bagi hilangnya selera pemilih untuk berpartisipasi secara oenuh dan cerdas.
Pertanyaannya sekarang, apakah itu cukup menjadi alasan bagi kita untuk berpangku tangan dan bersembunyi di ruang pribadi pada hari pemungutan suara? Jawabnya tentu tidak! Pemilu kali ini terlalu berharga untuk dibiarkan berlalu begitu saja. Ini adalah pemilu–yang mudah-mudahan—menjadi pemilu terakhir bagi politisi tua, yang sedikit banyak mengadopsi pola-pola politik orde baru dalam system default of thinking and actionnya. Ini adalah pemilu untuk mengirimkan sinyal perubahan bagi partai politik agar lebih serius dalam melakukan regenerasi. Di sisi lain, ini adalah pemilu yang seharusnya menjadi titik akhir konsolidasi demokrasi sebab di masa depan adalah awal kebangkitan untuk menjadikan demokrasi sebagai praksis. Demokrasi yang membawa kemajuan bagi semua orang.
Jika pada masa orde baru golput menjadi bentuk perlawanan terhadap kooptasi dan engineering politik orde baru. Maka ini adalah saatnya untuk melakukan perlawanan terhadap pengabaian dan kecenderungan kesukaan kita terhadap jalan pintas. Demokrasi adalah proses kebudayaan, sebuah jalan menuju peradaban yang lebih matang dan bukan proses bim salabim. Tidak memilih dalam situasi seperti sekarang adalah sikap yang kurang bijak bahkan cenderung kekanak-kanakan. Tidak memilih adalah pekerjaan paling mudah, tetapi memilih adalah pekerjaan maha sulit yang hanya bisa dilakukan orang dewasa. Golput adalah sikap frustrasi terhadap diri sendiri dibanding frustrasi terhadap orang lain. Frustrasi terhadap ketidak mampuan diri berbuat yang lebih besar dari sekedar bersikap seperti anak penderita autis. Jika anda berharap caleg dan parpol menjadi lebih baik, satu-satunya jalan adalah menjadi pemilih dan warga negara yang aktif. Bukan malah mengasingkan diri.
Posted by
at
09:04:13