Bersama (SBY - JK) Kita Bisa….BANGKRUT!
Sekarang, empat tahun kemudian kita menyaksikan betapa keadaan tak seperti yang diharapkan. Ekonomi kita tetap tak membaik untuk rakyat kecil, hanya bagus di kertas (makro ekonomi) dan bagi pengusaha besar. Rakyat tetap terhimpit dan terjepit karena tekanan ekonomi. Pasar tenaga kerja tetap saja terbatas bahkan perusahaan asing terus menerus mengepak barang dan pindah ke tempat lain yang lebih menjanjikan. Pendidikan tetap dan bahkan semakin mahal. Secara umum, tidak ada pemerintahan sebelum SBY - JK yang mampu menyaingi keberhasilan mereka dalam hal:
- Menurunkan tingkat kemiskinan. Kegagalan merespon dan mengelola isu BBM membuat rakyat yang tadinya mampu makan 3 kali sehari menjadi hanya 1 kali sehari. Yang tadinya makan dengan porsi yang lengkap menjadi hanya nasi dan lauk sekadarnya. Yang tadinya mampu mengais rejeki kecil-kecilan menjadi kehilangan kemampuan berusaha bahkan jadi peminta-minta. Yang tadinya mampu berobat sendiri sekarang harus mengurus surat miskin untuk mendapatkan asreskin. Yang tadinya mampu menyekolahkan anak hingga sarjana sekarang berhenti di SMU. Ya, tingkat kemiskinan memang jadi menurun sebab berpindah jadi di bawah garis kemiskinan. Selama 4 tahun pemerintahan SBY, berdasarkan angka optimistik kita berhasil menambah orang miskin sebanyak 2 juta keluarga. Hebat!
- Menambah kekayaan para menteri dan pejabat lainnya. Bahkan selama rezim maling Soeharto, tidak ada mentrinya yang jadi orang terkaya di Indonesia. Akumulasi penambahan kekayaan para pejabat selama era pemerintahan ini jauh mengalahkan kekayaan para pejabat rezim-rezim sebelumnya. Selamat untuk Abu Rizal Bakrie!
- Meningkatkan angka peminta sedekah dan pengantre. Belum ada rezim, bahkan sejak revolusi kemerdekaan yang berhasil membuat rakyat di seantero negeri berbaris rapi mengais kemurahan hati pemerintah, seperti yang kita saksikan saat antre BLT, Raskin, kompensasi BBM, minyak tanah dan sebagainya. Bahkan sebagian orang kaya ikut-ikutan jadi dermawan hingga menyebabkan orang miskin tewas terinjak-injak dan kehabisan oksigen seperti di Pasuruan kemarin.
- Menaikkan APBN tanpa menggerakkan ekonomi. APBN SBY- JK naik 3 kali lipat hingga hampir 1000 trilyun dibanding pemerintahan sebelumnya, tetapi tidak ada jalan, jembatan atau infrastruktur baru yang bertambah sehingga tidak mempu mendorong ekonomi riel. Hampir semua proyek infrastruktur adalah warisan rezim sebelumnya. Para kepala daerah dan perbankan berlomba-lomba menyimpan uang di dalam bentuk SBI (sertifikat Bank Indonesia) yang membebani ekonomi dan bukannya menggunakannya untuk menggerakkan ekonomi riel atau kegiatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan.
- Menambah kelas menengah secara signifikan. Kebijakan kredit konsumtif yang dipaksakan oleh IMF dan konconya berhasil menambah kelas menengah dari hasil utangan (kredit). Mereka yang secara ekonomi sebenarnya belum mampu untuk membeli mobil, motor atau rumah sekarang jadi mampu dengan akibat bertambahnya orang sakit jiwa, berkurang/hilangnya tabungan, menurunnya kemampuan hidup wajar, dsb. Jumlah pemilik HP, televisi, komputer dan alat elektronik lainnya memang bertambah, dengan mengurangi jatah makan, rekreasi atau berobat bahkan rekreasi.
- Menambah jumlah TKI dan TKW. Saat ini berjuta-juta rakyat miskin Indonesia, dan jumlahnya terus bertambah, harus mencari nafkah di luar negeri karena situasi ekonomi di dalam negeri tidak semakin membaik secara riel. Rakyat kecil tak punya peluang mendapat nafkah yang wajar karena ekonomi tidak bergerak. Begitupun, jumlah yang disiksa, mati sia-sia dan terusir seperti budak semakin bertambah. Brain drain semakin meningkat karena kaum intelektual dan profesional memilih hengkang ke negeri orang dari pada bersakit-sakit di negeri sendiri.
- Menaikkan jumlah pengusaha kecil yang bangkrut. Meroketnya harga-harga dan pasokan listrik yang tidak stabil dan sulit diprediksi membuat banyak pengusaha kecil yang kelimpungan dan akhirnya bangkrut. Listrik yang menjadi urat nadi home industry dipaksa membuang waktu produktif dan kemampuan berproduksi secara optimal karena kebijakan byar-pet yang rajin dilakukan petinggi PLN. Tapi syukurlah, sekarang ada KUR yang bisa dipakai meskipun fundamental usaha tak diperbaiki. Paling tidak ada perpanjangan nafas bagi rakyat, apalagi ini menjelelang pemilu dan ekonomi dunia di ambang resesi.
Nah, itu baru sebagian kecil keberhasilan. Keberhasilan lain yang tak kalah memalukan bisa dilihat dari pidato manis SBY saat mengumumkan sumbangan kepada perkembangan energi dunia lewat penemuan blue energy. Belum lagi sumbangan pada perkembangan pangan dunia lewat penemuan luar biasa padi Super Toy HL. Entah apalagi penemuan yang membuat kagum dunia yang akan dipropagandakan oleh SBY di masa depan.
Jadi, bagi anda yang memilih SBY dan berniat memilihnya lagi saya ucapkan selamat. Bersama kita bisa bangkrut!