(kalau mau,...) KITA PASTI BISA!
Menjadi Presiden itu tidak sulit., yang sulit itu jadi pemimpin.
Kalimat itu keluar dari Megawati Soekarnoputri, mantan Presiden RI dan Ketua Umum PDI Perjuangan. Sang Ketua Umum mengeluarkan pernyataan itu sebagai respon terhadap bujukan para pengurus partainya, agar mau menjadi Capres dalam Pilpres 2009. Dihadapan ribuan kader pengurus partai berlambang moncong putih itu, Mbak Mega-demikian dia biasa disebut-mengutarakan sulitnya menjadi pemimpin di Indonesia yang masih bergulat dengan krisis multidimensi yang kompleks.
Di satu sisi, apa yang dikatakan Megawati adalah sebuah refleksi kegelisahan atas carut marut kebudayaan politik dan sosial di negeri ini. Pasca tumbangnya Soeharto, krisis kepemimpinan politik terjadi bersamaan dengan berkembangnya euphoria kebebasan dalam melemahnya institusi kenegaraan. Reformasi adalah era dimana interaksi-interaksi (sosial) politik berlangsung secara transaksional, bukan atas re-framing terhadap mimpi ke-Indonesia-an yang utuh. Dalam situasi seperti ini, kepemimpinan dan ketauladan-an lewat sikap-sikap kenegarawanan mengalami stagnasi bahkan dekadensi. Yang terjadi adalah hilangnya arah dan kemampuan memobilisasi energi bangsa secara efektif, menuju masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan
Kepemimpinan di era reformasi
Sebagaimana yang telah disinggung di depan, kita tengah mengalami defisit kepemimpinan. Ironisnya, dalam waktu kurang dari sepuluh tahun sejak Soeharto turun dari kursi kekuasaannya, kita telah memiliki empat orang presiden, ratusan partai politik, ribuan media massa dan LSM/Ormas. Sungguh kontras dengan ORLA dan ORBA yang hanya menghasilkan dua orang presiden selama lebih dari lima puluh tahun. Begitupun, dari sisi kepemimpinan politik dan sosial kedua orde itu lebih kaya dalam hal kepemimpinan dibanding orde reformasi.
Orde reformasi menandai terjadi terjadinya liberalisasi dalam pasar politik di Indonesia. Terjadi perubahan yang signifikan dalam struktur, relasi maupun pengelolaan politik di negeri ini. Sentralisasi kekuasaan tinggal menjadi mimpi karena pusat-pusat kekuasaan menjadi sedemikian terdesentralisasi. Para pemimpin di pusat dan di daerah dipilih secara langsung yang secara idealistik berarti kembalinya kedaulatan kepada rakyat secara penuh. Akan tetapi, sungguh ironis ketika realitas yang terjadi adalah justru semakin jauhnya rakyat dan kepentingannya dari orientasi dan keberpihakan politik.
Mengapa hal ini terjadi? Tentu saja ada banyak faktor yang menyebabkan, tetapi bisa dikatakan bahwa kepemimpinan (dalam artian luas) adalah salah satu faktor yang determinan. Sejarah dibanyak peradaban menunjukkan bahwa, transisi dari suatu rejim otoriter ke arah yang lebih demokratis seringkali melahirkan suasana chaotic. Ini terjadi bersamaan dengan melemahnya kewibawaan institusi dan aktor-aktor kekuasaan, baik yang lama maupun yang baru. Di lain sisi, tumbuh pula kelompok-kelompok dan figur-figur baru yang mencoba mengambil peran dan akses kepada kekuasaan. Di tingkat masyarakat muncul euforia, dalam bentuk pengabaian maupun pembangkangan sebagai respon terhadap kebebasan yang baru dinikmati. Sedangkan pada sisi lain, para pengelola negara dan pemerintahan kehilangan kepercayaan diri dan gamang menyikapi perubahan. Situasi seperti inilah yang sedang kita hadapi, sebuah kompleksitas yang tidak mudah disiasati. Tanpa kepemimpinan sosial dan politik yang mencerahkan, maka akan sangat mudah bagi agen-agen sosial dan politik untuk terjebak dalam mengurus bangsa secara transaksional, pragmatis dan miskin visi.
Dalam 'Leadership' (1970), John McGregor Burns mencoba merumuskan kepemimpinan yang efektif. Menurut Burns, seorang pemimpin yang transformatif adalah pemimpin yang mampu menyatukan para pendukungnya dalam suatu shared vision yang dapat memperbaiki dan mengembangkan organisasi dan masyarakatnya secara luas. Kepemimpinan transformatif ini dikatakan memiliki kemampuan untuk mendeliver nilai-nilai (true values), integritas dan trust. Kepemimpinan transformatif ini adalah kebalikan dari pemimpin transaksional yang melakukan apapun untuk memperbesar kekuasaannya.
Kita memerlukan pemimpin sebagai sumber inspirasi dan mobilisasi sosial. Pemimpin yang mampu memberikan arah dan prioritas yang jelas, bukan sekedar pemimpin yang kuat dan berwibawa atau populer semata. Kita sangat membutuhkan pemimpin yang mampu melahirkan terobosan, mengambil resiko-resiko politik demi membawa bangsa ini keluar dari bayang-bayang krisis. Kita sangat mengharapkan munculnya pemimpin yang mampu melakukan re-framing dan mengajak kita semua melihat bayangan masa depan secara bersama.
Dari mana kita akan mendapatkan pemimpin seperti itu? Tentu dari partai politik, baik dari dalam maupun calon-calon, yang direkrut karena dianggap mampu dan layak. Mengapa dari partai politik? Sebab kita harus melahirkan dan merekrut pemimpin secara terlembaga. Dalam peradaban demokrasi dimanapun, partai politik adalah entitas yang paling logis dalam melahirkan kepemimpinan politik. Lewat partai politik, kita lebih mungkin mendapatkan pemimpin yang berinteraksi dengan persoalan-persoalan dan dinamika masyarakat. Tentu dengan catatan, partai-partai politik itu memang mempraktekkan budaya demokratis secara internal, bukan sekedar milik elit oligarkis. Partai-partai itu tentunya harus melembagakan sistem dan prosedur demokratis dalam setiap aspek kehidupan partai. Juga mesti memiliki mekanisme pengelolaan konflik yang terlembaga dan rekrutmen serta kaderisasi yang ajeg. Di sisi lain, partai-partai politik tersebut juga memelihara konstituennya dan relevan dengan kebutuhan kongkrit atau ideologis rakyat.
Persoalannya tentu, apakah partai-partai politik kita sudah seperti itu. Saat ini mungkin bisa dikatakan belum, sebab partai-partai kita masih sibuk dengan diri dan kepentingannya sendiri. Tetapi tentu kita tidak boleh kehilangan harapan dan tergoda untuk mengambil jalan pintas, yang justru akan merusak konsolidasi demokrasi dalam jangka panjang. Harap diingat bahwa partai-partai kita dan politisinya (minus Partai GOLKAR) telah drop-out dari "sekolah politik" selama puluhan tahun. Tentu menjadi tidak terhindarkan jika kualitas dan rekam jejak mereka belum seperti yang kita harapkan. Tetapi kita tidak boleh ada keraguan sedikitpun bahwa partai-partai politik kita sekarang sedang berbenah dan akan terus berusaha memperbaiki dirinya. Sebab jika tidak, mereka pasti akan membusuk dan ditinggalkan pemilih. Jika kita mau, kita pasti bisa memaksa mereka berubah lebih cepat lagi!
Apa yang dilontarkan oleh Megawati tentang kepemimpinan, sebenarnya merupakan wacana yang juga telah berkembang di kalangan masyarakat. Kita menunggu sambutan dan refleksi dari para pemimpin politik maupun negarawan yang lain. Megawati telah memulai wacana ini dan tentunya beliau berkewajiban menunjukkan secara kongkrit apa yang dimaksudkan. Baik melalui sikap dan tindakan pribadi maupun praksis dalam kehidupan partai politik yang dipimpinnya. Sejauh ini, Megawati memang telah membuktikan konsistensinya meskipun dengan format komunikasi politik yang cenderung defisit. Jujur saja, kita merindukan pemimpin yang mampu memberikan teladan nyata, pemimpin yang satu kata dan perbuatan. Nah, kalau Megawati mau, saya yakin dia pasti bisa!





