Monday, September 17, 2007

(kalau mau,...) KITA PASTI BISA!

Menjadi Presiden itu tidak sulit., yang sulit itu jadi pemimpin.

Kalimat itu keluar dari Megawati Soekarnoputri, mantan Presiden RI dan Ketua Umum PDI Perjuangan. Sang Ketua Umum mengeluarkan pernyataan itu sebagai respon terhadap bujukan para pengurus partainya, agar mau menjadi Capres dalam Pilpres 2009. Dihadapan ribuan kader pengurus partai berlambang moncong putih itu, Mbak Mega-demikian dia biasa disebut-mengutarakan sulitnya menjadi pemimpin di Indonesia yang masih bergulat dengan krisis multidimensi yang kompleks.

Di satu sisi, apa yang dikatakan Megawati adalah sebuah refleksi kegelisahan atas carut marut kebudayaan politik dan sosial di negeri ini. Pasca tumbangnya Soeharto, krisis kepemimpinan politik terjadi bersamaan dengan berkembangnya euphoria kebebasan dalam melemahnya institusi kenegaraan. Reformasi adalah era dimana interaksi-interaksi (sosial) politik berlangsung secara transaksional, bukan atas re-framing terhadap mimpi ke-Indonesia-an yang utuh. Dalam situasi seperti ini, kepemimpinan dan ketauladan-an lewat sikap-sikap kenegarawanan mengalami stagnasi bahkan dekadensi. Yang terjadi adalah hilangnya arah dan kemampuan memobilisasi energi bangsa secara efektif, menuju masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan

Kepemimpinan di era reformasi

Sebagaimana yang telah disinggung di depan, kita tengah mengalami defisit kepemimpinan. Ironisnya, dalam waktu kurang dari sepuluh tahun sejak Soeharto turun dari kursi kekuasaannya, kita telah memiliki empat orang presiden, ratusan partai politik, ribuan media massa dan LSM/Ormas. Sungguh kontras dengan ORLA dan ORBA yang hanya menghasilkan dua orang presiden selama lebih dari lima puluh tahun. Begitupun, dari sisi kepemimpinan politik dan sosial kedua orde itu lebih kaya dalam hal kepemimpinan dibanding orde reformasi.

Orde reformasi menandai terjadi terjadinya liberalisasi dalam pasar politik di Indonesia. Terjadi perubahan yang signifikan dalam struktur, relasi maupun pengelolaan politik di negeri ini. Sentralisasi kekuasaan tinggal menjadi mimpi karena pusat-pusat kekuasaan menjadi sedemikian terdesentralisasi. Para pemimpin di pusat dan di daerah dipilih secara langsung yang secara idealistik berarti kembalinya kedaulatan kepada rakyat secara penuh. Akan tetapi, sungguh ironis ketika realitas yang terjadi adalah justru semakin jauhnya rakyat dan kepentingannya dari orientasi dan keberpihakan politik.

Mengapa hal ini terjadi? Tentu saja ada banyak faktor yang menyebabkan, tetapi bisa dikatakan bahwa kepemimpinan (dalam artian luas) adalah salah satu faktor yang determinan. Sejarah dibanyak peradaban menunjukkan bahwa, transisi dari suatu rejim otoriter ke arah yang lebih demokratis seringkali melahirkan suasana chaotic. Ini terjadi bersamaan dengan melemahnya kewibawaan institusi dan aktor-aktor kekuasaan, baik yang lama maupun yang baru. Di lain sisi, tumbuh pula kelompok-kelompok dan figur-figur baru  yang mencoba mengambil peran dan akses kepada kekuasaan. Di tingkat masyarakat muncul euforia, dalam bentuk pengabaian maupun pembangkangan sebagai respon terhadap kebebasan yang baru dinikmati. Sedangkan pada sisi lain, para pengelola negara dan pemerintahan kehilangan kepercayaan diri dan gamang menyikapi perubahan. Situasi seperti inilah yang sedang kita hadapi, sebuah kompleksitas yang tidak mudah disiasati. Tanpa kepemimpinan sosial dan politik yang mencerahkan, maka akan sangat mudah bagi agen-agen sosial dan politik untuk terjebak dalam mengurus bangsa secara transaksional, pragmatis dan miskin visi.

Dalam 'Leadership' (1970), John McGregor Burns mencoba merumuskan kepemimpinan yang efektif. Menurut Burns, seorang pemimpin yang transformatif adalah pemimpin yang mampu menyatukan para pendukungnya dalam suatu shared vision yang dapat memperbaiki dan mengembangkan organisasi dan masyarakatnya secara luas. Kepemimpinan transformatif ini dikatakan memiliki kemampuan untuk mendeliver nilai-nilai (true values), integritas dan trust. Kepemimpinan transformatif ini adalah kebalikan dari pemimpin transaksional yang melakukan apapun untuk memperbesar kekuasaannya.

Kita memerlukan pemimpin sebagai sumber inspirasi dan mobilisasi sosial. Pemimpin yang mampu memberikan arah dan prioritas yang jelas, bukan sekedar pemimpin yang kuat dan berwibawa atau populer semata. Kita sangat membutuhkan pemimpin yang mampu melahirkan terobosan, mengambil resiko-resiko politik demi membawa bangsa ini keluar dari bayang-bayang krisis. Kita sangat mengharapkan munculnya pemimpin yang mampu melakukan re-framing dan mengajak kita semua melihat bayangan masa depan secara bersama.

Dari mana kita akan mendapatkan pemimpin seperti itu? Tentu dari partai politik, baik dari dalam maupun calon-calon, yang direkrut karena dianggap mampu dan layak. Mengapa dari partai politik? Sebab kita harus melahirkan dan merekrut pemimpin secara terlembaga. Dalam peradaban demokrasi dimanapun, partai politik adalah entitas yang paling logis dalam melahirkan kepemimpinan politik. Lewat partai politik, kita lebih mungkin mendapatkan pemimpin yang berinteraksi dengan persoalan-persoalan dan dinamika masyarakat. Tentu dengan catatan, partai-partai politik itu memang mempraktekkan budaya demokratis secara internal, bukan sekedar milik elit oligarkis. Partai-partai itu tentunya harus melembagakan sistem dan prosedur demokratis dalam setiap aspek kehidupan partai. Juga mesti memiliki mekanisme pengelolaan konflik yang terlembaga dan rekrutmen serta kaderisasi yang ajeg. Di sisi lain, partai-partai politik tersebut juga memelihara konstituennya dan relevan dengan kebutuhan kongkrit atau ideologis rakyat.

Persoalannya tentu, apakah partai-partai politik kita sudah seperti itu. Saat ini mungkin bisa dikatakan belum, sebab partai-partai kita masih sibuk dengan diri dan kepentingannya sendiri. Tetapi tentu kita tidak boleh kehilangan harapan dan tergoda untuk mengambil jalan pintas, yang justru akan merusak konsolidasi demokrasi dalam jangka panjang. Harap diingat bahwa partai-partai kita dan politisinya (minus Partai GOLKAR) telah drop-out dari "sekolah politik" selama puluhan tahun. Tentu menjadi tidak terhindarkan jika kualitas dan rekam jejak mereka belum seperti yang kita harapkan. Tetapi kita tidak boleh ada keraguan sedikitpun bahwa partai-partai politik kita sekarang sedang berbenah dan akan terus berusaha memperbaiki dirinya. Sebab jika tidak, mereka pasti akan membusuk dan ditinggalkan pemilih. Jika kita mau, kita pasti bisa memaksa mereka berubah lebih cepat lagi!

Apa yang dilontarkan oleh Megawati tentang kepemimpinan, sebenarnya merupakan wacana yang juga telah berkembang di kalangan masyarakat. Kita menunggu sambutan dan refleksi dari para pemimpin politik maupun negarawan yang lain. Megawati telah memulai wacana ini dan tentunya beliau berkewajiban menunjukkan secara kongkrit apa yang dimaksudkan. Baik melalui sikap dan tindakan pribadi maupun praksis dalam kehidupan partai politik yang dipimpinnya. Sejauh ini, Megawati memang telah membuktikan konsistensinya meskipun dengan format komunikasi politik yang cenderung defisit. Jujur saja, kita merindukan pemimpin yang mampu memberikan teladan nyata, pemimpin yang satu kata dan perbuatan. Nah, kalau Megawati mau, saya yakin dia pasti bisa!

Posted by erland at 09:51:15 | Permanent Link | Comments (0) |

Friday, September 07, 2007

DEMOKRASI,ANAK MUDA dan BUDAYA POPULAR

Negara itu kan seperti kereta. Penumpang kereta bisa diumpamakan seperti warga negara. Di dalam kereta ada orang berbagai latar belakang dan status, tapi semua punya punya harapan untuk sampai ke tujuan! Demikian kira-kira argumen salah seorang pelajar yang ikut kompetisi fotografi , yang bertema "Cermin Demokrasi dalam Foto" milik  Proyek CIVED akhir tahun lalu di hadapan panel juri. Sang pelajar, dengan karya foto kaki-kaki penumpang kereta yang sedang berdiri berdesakan itu akhirnya memenangkan tempat pertama dalam kompetisi tersebut.

Sebuah film pendek yang mengisahkan tiga orang anak yang menulis surat kepada Presiden SBY . Ketiga anak itu menggugat dengan gaya yang lugu tiga kasus; lumpur Lapindo, diskriminasi agama dan keluarga korban kasus Trisakti. Masing-masing anak itu mengirimkan surat mereka melalui kapal kertas di kali yang kotor, dan bermimpi kiranya sang Presiden mau memperhatikan suara mereka. Film diakhiri dengan adegan seorang ibu yang sewot karena banyaknya surat yang nyangkut di kali. Inilah karya pelajar yang memenangkan kategori film terbaik dalam kompetisi film pendek anak muda awal September kemarin. Sang pembuat film mencoba mengkomunikasikan bahwa demokrasi itu harusnya menyelesaikan persoalan rakyat, dan bukan berakhir di tempat sampah.

Kedua karya tersebut, dari sisi tekhnis sudah sangat memadai. dari sudut isi juga sangat luar biasa. Betapa mengagumkan refleksi anak-anak itu tentang demokrasi, di luar dugaan dan tak terbayangkan. Memang tidak semua anak-anak itu mampu menghasilkan karya yang memuaskan, kebanyakan larut dalam budaya popular yang seringkali meaningless. Beberapa karya film pendek itu misalnya, kentara sekali mencoba menjiplak budaya (adegan) sinetron yang dangkal. Ada pula yang memahami demokrasi sebagai nasionalisme/romantisme (semu) belaka.

Demokrasi memang bukan soal mudah untuk didefinisikan, apalagi dipraktekkan. Sering ia disandera menjadi hanya sekedar slogan, diputar balikkan sedemikian rupa  untuk melegitimasi kepentingan. Di sekolah, demokrasi dipasarkan bersamaan dengan pendidikan kewarganegaraan yang isinya melulu tanggung jawab, definisi dan jargon. Nyaris beku karena sempitnya ruang berdiskusi, hampir sulit meletakkannya dalam konteks keseharian yang mudah dipahami. Sekolah dalam banyak hal seringkali malah menjadi tempat dimana demokrasi dibuat mati muda. Ranah publik dan mungkin keluarga, juga bukan tempat dimana pemahaman dan tabiat demokratik dikecambahkan atau dipraktekkan. Maka tidak mengherankan, jika pemahaman dan praktek demokrasi menjadi sesuatu yang mewah untuk ditemukan. Lihat saja media massa dan produknya, lihat pula perilaku kita di jalanan, parlemen kita, birokrat dan sebagainya. Sungguh sulit menemukan role model atau best practisses yang bisa kita banggakan. Saya sendiri pernah dikagetkan oleh statement seorang anak SMP dalam sebuah FGD untuk riset, sang anak berujar: ' demokrasi kita cuma menghasilkan maling, lebih enak jaman Pak Harto!" Kaget? Ya saya kaget, anak itu masih duduk di tahun awal sekolah dasar ketika Soeharto tumbang. Praktis dia tidak mengalami zaman kegelapan demokrasi selama orde baru. Tentu dia tidak bisa dipersalahkan karena orde reformasi memang belum memberikan manfaat bagi dia, keluarga dan komunitasnya. Statement itu memang layak didebat, tapi sungguh mengkhawatirkan fakta tentang realitas persepsi yang dimiliki oleh banyak anak remaja.

Anak muda kita sekarang, seperti juga anak muda di zaman dan peradaban manapun memang cenderung emosional, dangkal dan mau serba instant. Tetapi ada yang berbeda, zaman sekarang anak-anak muda dibombardir oleh tekhnologi informasi global yang intens. Ini sesuatu yang tidak dialami oleh anak muda zaman dulu. Trend setter masa kini begitu banyak, bisa dari mana saja, terjadi kapan saja dan oleh siapa saja. Berbeda dengan zaman dulu yang serba terbatas dan lambat. Kebudayaan popular yang ada sekarang berkembang dari gempuran terus menerus, konstan dan dari berbagai arah terhadap alam sadar dan bawah sadar anak muda.  Yang menjadi soal adalah defisit contoh baik yang ada di masyarakat kita saat ini.

Lantas bagaimana menyiasati persoalan ini? Jika demokrasi kehilangan fondasi kebudayaan dan agen-agen pembaharunya, apakah kita punya harapan? Jawabanya adalah, ya, kita masih punya harapan. Terbukti dari kedua kompetisi di atas, anak muda juga punya kemampuan untuk memahami, merefleksikan dan mempraktekkan demokrasi. Hanya saja, perlu kerja keras semua pihak agar praktek-praktek dan pemahaman yang benar mendapatkan tempt dalam etalase kebudayan popular saat ini. Ini berarti siapapun yang berkepentingan membangun jejak demokrasi bangsa ini, hendaknya berbicara dalam budaya/idiom dan saluran yang menjadi domain anak muda jaman sekarang. Dengan anak muda, kita harus menyentuh hatinya. Berbicara dari hati ke hati, dengan begitu pikiran lebih mudah diajak berdialog. Sebab jika tidak, kasihan mereka mewarisi perilau buruk kita, utang-utang kita, hutan gundul dan bumi yang kita cabik-cabik. Jika mereka berani bersuara dan terlibat maka kita mau tak mau harus memperbaiki diri kita, sekarang juga!

 

 

Posted by erland at 16:33:04 | Permanent Link | Comments (1) |

Thursday, September 06, 2007

CALON INDEPENDEN

Dunia politik kita sedang gerah. Pemicunya adalah putusan Mahkamah Konstitusi yang memberikan kesempatan kepada individu untuk mencalonkan diri dalam pemilihan kepala daerah. Pro dan Kontra pun merebak di seantero negeri. Yang pro datang dari berbagai kelompok, mulai dari para aktivis pro-demokrasi sampai para politisi avonturir. Yang kontra gampang ditebak, umumnya dari kalangan partai politik. Pemerintah dan parlemen pun kalang kabut, putusan tersebut berarti merombak aturan terkait yang prosesnya memakan waktu lama. Sementara, di daerah banyak politisi atau calon politisi yang sudah tidak sabar untuk segera bisa bertarung dalam pilkada.

Keinginan untuk memunculkan calon independen sebenarnya bukan tanpa dasar. Ada niat luhur di sana untuk mendorong perbaikan proses politik rekrutmen pemimpin. Selama ini rekrutmen calon selalu menjadi domain dan privelege partai politik. Ada banyak kritik atas hak istimewa parpol untuk urusan ini, terutama terkait politik uang dan praktek oligarki elit yang suka meminggirkan aspirasi masyarakat dan bahkan konstituennya sendiri. Kelompok yang tidak sabar atas proses-proses transparansi, akuntabilitas dan demokrasi internal partai politik sangat mengharapkan adanya terobosan lewat calon independen. Meskipun, sebenarnya keputusan MK ini berawal dari gugatan seorang politisi partai gurem yang tidak dicalonkan partainya sendiri, nun jauh di NTB sana. Begitupun, harapan akan munculnya calon-calon terbaik dan bersih di dalam politik seoleh akan terjawab lewat calon independen ini. Tetapi, apakah hal ini  pasti akan terjadi? Tentu saja tidak, sebab peluang ini juga tentu akan dimanfaatkan oleh para petualang politik yang haus kuasa dan juga uang.

Dalam peradaban demokrasi yang mapan, terutama di negara-negara barat, calon independen seringkali hanyalah "penggembira" dalam proses politik. Lebih mungkin menjadi aksesori dan sekali-sekali menaikkan suhu politik, dibanding membawa perubahan secara signifikan. Calon independen seringkali berperan sebagai penentu yang memenangkan atau mengalahkan calon-calon favorit yang bertarung. Ambil contoh, pengalaman Ralph Nader di Amerika yang menyebabkan kekalahan Al Gore (wapres pada masa Bill Clinton). Nader berkontribusi terhadap kemenangan George Bush sebab ia berhasil menarik para pemilih hijau (green voters) yang sebelumnya mendukung Gore di beberapa negara bagian yang krusial. Fenomena ini sangat mungkin terjadi di Indonesia dan lebih mungkin lagi menjadi lahan money politics yang luar biasa. Sekarang saja sering terjadi beberapa orang mencalonkan diri hanya untuk mendapatkan "uang mundur" dari calon yang mungkin dirugikan. Lihat saja kasak kusuk seputar pencalonan gubernur dalam pilkada Jakarta kemarin. Calon independen yang sengaja dimunculkan atau memunculkan diri untuk menjadi batu sandungan bagi satu pihak dan batu injakan bagi pihak lain kemungkinan menjadi warna  politik lokal kita ke depan. Besar kemungkinan kita akan sering melihat fenomena "Jakarta untuk semua" dalam pilkada di daerah-daerah. Kondisi seperti ini sangat mungkin membawa ketegangan dalam dunia politik kita.

Sebagian pihak berpendapat bahwa adanya calon independen akan mendorong perbaikan internal partai politik. Pendapat ini mungkin ada benarnya sebab partai politik akan dipaksa untuk memilih calon yang benar-benar populer dan 'electable'. Bukan sekedar calon yang memberikan 'setoran' paling besar, seperti yang selama ini banyak terjadi. Tetapi argumen ini cenderung mengabaikan fakta bahwa belum tentu juga calon-calon tersebut adalah yang paling capable atau layak memimpin.  Yang akan menjadi ukuran utama adalah popularitas dan electability sang calon. Sampai di sini, pendewasaan partai politik lewat kaderisasi dan rekrutmen pemimpin juga akan dikorbankan. Belum lagi kemungkinan bahwa yang dipilih adalah calon-calon selebritis dengan track record pas-pas an atau terbatas. Satu isu penting lain adalah kestabilan pemerintahan pasca kemenangan calon independen. Bisa dibayangkan, akan terjadi balas dendam yang dilakukan oleh parpol yang kalah oleh calon-calon independen yang tidak memiliki topangan yang kuat di parlemen. Akhirnya, situasi ini juga akan merembet dengan melibatkan masyarakat luas, atau paling tidak antar pendukung. Pertentangan dengan parpol akan sulit dihindarkan dan akhirnya menyedot energi dan waktu (bahkan mungkin uang) yang dibutuhkan bagi pelaksanaan pemerintahan. Lebih jauh lagi, eksperimen yang gagal ini (bila itu terjadi) akan menurunkan secara signifikan tingkat kepercayaan publik terhadap kelembagaan, proses dan out put politik. Situasi seperti ini akan merusak fondasi dasar demokrasi kita yang masih balita. Pendek kata, biaya politik, sosial dan ekonomi akan sangat besar jika semua pihak tidak mampu menempatkan wacana calon indepeden sebagai terobosan untuk mematangkan demokrasi kita.

Terus terang, sulit menjelaskan kontribusi positif calon independen dalam format dan budaya politik kita saat ini. Jika yang diharapkan adalah terobosan maka hendaknya dipahami juga, bahwa pada saat bersamaan kita sedang membangun perangkap. Tidak ada jaminan yang serta merta bahwa praktek-praktek maupun output politik yang dihasilkannya akan sesuai niat luhurnya, apalagi memuaskan semua pihak. Saya cenderung berpendapat ini adalah tipikal orang Indonesia, tidak sabar dan cenderung menggunakan kerangka pikir defisit. Lebih senang menerobos dari pada bersusah payah membangun kultur dan perbaikan kelembagaan.

Partai politik kita memang belum seperti yang kita harapkan. Masih ada banyak masalah di sana. Tetapi hendaknya dipahami bahwa partai politik dan politisi kita telah drop-out dari 'sekolah' politik sepanjang kekuasaan orde baru. Kecuali mungkin Partai Golkar, hal mana menjelaskan daya tahan dan kemampuan mereka untuk mendominasi politik Indonesia hanya satu pemilu setalah mereka dilaknat oleh kebanyakan rakyat. Kita harus belajar lebih sabar, apresiatif dan lebih banyak terlibat, dalam berbagai bentuk, untuk mendorong perbaikan partai politik. Sebab partai politik adalah salah satu faktor yang determinan dalam budaya dan praktek demokrasi. Tanpa partai politik yang sehat dan efektif maka bangunan demokrasi akan cenderung rentan. Pengerdilan partai politik, baik oleh eksternal maupun internalnya akan menghambat laju demokrasi dan kemajuan bangsa ini. Salah satu cara yang mudah untuk memastikan hal ini tidak terjadi adalah dengan melibatkan diri dalam dunia politik. Baik sebagai penggiat atau simpatisan partai, sebagai warga yang aktif dan kritis terhadap politik, menggunakan hak pilih secara dewasa dan cerdas, dan sebagainya. Hendaknya jalur independen ini tidak sekedar menjadi sebuah eksperimentasi pengalaman "barat" tanpa konteks. Jika demikian adanya, kita harus siap-siap untuk kecewa! Dan, ketika itu terjadi maka harganya bagi perkembangan demokrasi menjadi cukup mahal! 

 

Posted by erland at 13:52:33 | Permanent Link | Comments (1) |

Monday, September 03, 2007

MALAYSIA dan MARTABAT KEMANUSIAAN KITA

Hampir dua minggu negeri ini diramaikan oleh hiruk pikuk oleh kasus penganiayaan wasit karate Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia. Donald, sang wasit yang sedang bertugas untuk Kejuaraan Karate Asia disiksa oleh oknum polisi negeri jiran itu. Kasus ini hanya menambah panjang deretan perlakuan tidak manusiawi warga Indonesia di luar negeri, terutama Malaysia. Kisah tragis ternyata tidak hanya dialami oleh para pekerja migran tetapi bahkan tamu resmi seperti sang wasit maupun wisatawan yang datang menghabiskan duitnya. Tak pelak, negeri ini luka dan menimbulkan amarah yang meluas. Dari surat protes, demo hingga aksi sweeping yang sebetulnya berlebihan. Perasaan kemanusiaan dan nasionalisme pun tersentuh dan terbakar, ada yang tetap rasional tetapi ada pula yang tidak proporsional.

Prasangka rasialis 

Apa yang dialami oleh Donald dan banyak lainnya adalah akibat langsung dari berkembangnya prasangka etnis (prejudice), melengkapi perlakuan diskriminasi dan stereotip terhadap orang Indonesia di Malaysia. Prasangka dan perlakuan diskriminatif ini berkembang terkait dengan maraknya kasus pendatang haram, meningkatnya angka kriminalitas terkait 'indon" serta perilaku buruk anak bangsa yang ada di negeri itu. Sekait dengan itu berkembang pula perasaan superior orang Melayu dan penduduk asli Malaysia terhadap pendatang Indonesia yang dianggap lebih rendah. Hal ini direfleksikan oleh penyebutan istilah "indon" terhadap orang Indonesia, persis seperti rasialis amerika jaman dulu menyebut 'niger' (negro) kepada keturunan afrika.

Apa yang salah di sana? Tidak dapat dipungkiri bahwa pasti ada oknum-oknum warga Indonesia yang melakukan hal-hal tidak terpuji di negeri Mahathir dan Anwar Ibrahim itu. Tetapi Malaysia lupa bahwa kontribusi dari jutaan pekerja legal dan entah berapa yang ilegal dari Indonesia sangat besar artinya bagi perkembangan ekonomi negeri itu. Tampaknya Malaysia lupa bahwa Indonesialah yang dulu mengirim guru-guru dari tingkat dasar sampai universitas ke negeri itu untuk membantu membangun peradaban modern di sana. Layakkah ulah segelintir orang Indonesia menjadi justifikasi untuk berkembangnya prasangka rasial yang merusak? Siapakah yang meyadap getah, memanen kelapa sawit dan gedung-gedung tinggi di seantero Malaysia yang dibayar cukup murah itu?  Bagaimana pula peran para cukong Malaysia yang mendatangkan pendatang haram lalu memperlakukan mereka seperti binatang? Bila orang Malaysia begitu bermartabat dan taat hukum, bagaimana mereka menjelaskan begitu banyak warganya yang terlibat pembalakan liar hutan-hutan Indonesia, penyeludupan, pencurian di laut, perdagangan manusia dan sikap tak terpuji lainnya? Atas dasar apa sebenarnya perasaan superior mereka dan selanjutnya prasangka rasialis terhadap Indonesia dikembangkan? Dan mengapa mereka melakukannya kepada negeri serumpun, tetangga dan mayoritas beragama yang sama? Mengapa tidak kepada orang Filipina, Bangladesh dan Sri Lanka yang juga banyak di sana? Benarkah hal itu semata-mata karena buruknya perilaku dan kualitas manusia Indonesia yang mencari nafkah di sana? Benarkah melulu ini adalah masalah orang Indonesia saja ataukah ini ada hubungannya dengan sejarah di masa lalu yang tak lekang dalam ingatan penduduk Malaysia? Atau apa??? Kita hanya bisa menebak-nebak dalam hati!

Satu hal yang tidak bisa dipungkiri, manusia-manusia Indonesia ini telah kehilangan martabatnya dan selanjutnya kehilangan kemanusiaannya. Sebuah kadi yang menyedihkan bagi negeri yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 62 ini. Entah apa yang ada dibenak para pemimpin negeri ini saat melihat situasi yang ada.

 

Salah sendiri

Tidak ada salahnya jika kita menggunakan momen ini untuk berefleksi dan mengubah diri. Martabat suatu bangsa adalah kumpulan dari martabat manusianya. Bangsa yang tidak menghargai martabat warganya pasti suatu saat juga akan kehilangan martabatnya dalam peradaban dunia. Manusia Indonesia, terutama para pekerja migrannya sudah kehilangan martabat dan kemanusiaannya sejak dari kampung halamannya, di tempat penampungan hingga tempat mereka bekerja di negeri orang. Pun, ketika mereka kembali ke negeri ini setelah memeras keringat dan darah di rantau orang.  Pendek kata, pelecehan dan penderitaan adalah situasi yang dialami oleh para pekerja migran itu sejak dari negeri sendiri. Pembiaran yang dipraktekkan oleh para penguasa dan kelas menengah masyarakat Indonesia sendirilah yang sekarang menampar muka sendiri. Sungguh menyebalkan menyaksikan para petinggi negeri ini bicara tentang martabat dan nasionalisme ketika selama ini mereka tidak sungguh-sungguh peduli terhadap pelecehan martabat manusia warganya. Sepanjang tahun 2007 saja hampir 200 orang pekerja migran Indonesia yang meregang nyawa di negeri orang dan tidak mendapat perhatian serta pembelaan yang seharusnya. Baru setelah seorang warga kelas menengah yang tersangkut maka seluruh negeri ini seolah sontak bangkit berteriak.

Apa yang dialami oleh pekerja migran Indonesia sangat kontras dengan apa yang dialami oleh pekerja serupa dari negeri lain. Hal ini sudah terlalu sering dibicarakan tetapi langkah-langkah yang diambil pemerintah tak juga mampu menjadi terobosan yang berarti. Masyarakat kelas menengah Indonesia juga cenderung tidak peduli terhadap isu ini, menganggap diri berbeda, jijik dan tak sudi campur dengan para pekerja migran. Baik ketika di negeri sendiri maupun ketika berada di luar negeri. Mereka lupa, jika mereka abai terhadap isu ini maka bukan tak mungkin mereka juga akan terkena imbasnya ketika prasangka dan diskriminasi terhadap orang Indonesia berkembang di luar negeri. Lihatlah bagaimana angkuhnya orang Indonesia di banda-bandar udara internasional, di atas pesawat atau ketika bertemu di luar negeri. Sungguh kontras dengan bangsa-bangsa lain yang begitu hangat ketika bertemu orang sebangsa.

 

Kepedulian dan Martabat Kita

Jika kita ingin membantu menghapus citra dan prasangka rasialis orang Indonesia di luar negeri, maka kita harus berbenah. Pemerintah tak bisa lagi menganggap masalah ini sebagai isu tidak penting yang bisa diurus sambil lalu. Sekaranglah waktunya bagi para pemimpin baik politisi maupun birokrasi untuk bekerja keras membuat terobosan-terobosan nyata. Presiden harus menunjukkan kepeduliannya dengan melibatkan diri lewat kepemimpinan dan kebijakan eksekutif. Diskriminasi terhadap pekerja Indonesia harus dihapus sejak dari dalam negeri, mereka harus dibangun dan dipompa martabatnya sebagai manusia. Pemerintah harus mulai membangun kesepakatan dengan berbagai negeri yang menampung pekerja Indonesia, memberikan perlindungan, pelayanan dan pembelaan selama mereka bekerja hingga kembali ke kampung halamannya. Jalur khusus TKI harus dihapus karena lebih banyak merugikan para pekerja tersebut. Jika perlu para pekerja migran ini diperlakukan seperti rombongan haji, dimana aparat pemerintah diberangkat khusus bersama mereka dan memastikan mereka sampai ke tempat tujuan. Secara berkala pemerintah juga harus melakukan monitoring dan pendampingan, tentu saja dengan memastikan praktek ini tidak menjadi modus korupsi dan pemerasan gaya baru.

Martabat kita sebagai manusia Indonesia dan sebagai bangsa ditentukan oleh seberapa jauh kita memperlakukan manusia di negeri sendiri. Nasionalisme yang hanya tergerak oleh simbol-simbol semata hanyalah nasionalisme bendera yang sempit dan tanpa makna. Nasionalisme Indonesia hendaklah dibangun atas isi, praktek keseharian dan terinstitusionalisasi dalam praksis, bukan slogan-slogan kosong tanpa makna. Jika kita peduli terhadap martabat kita sebagai bangsa maka mulailah peduli terhadap nasib sesama, keadilan dan persamaan. Tanpa itu, martabat kita sifatnya absurd dan tidak relevan. Jika kita hendak dihormati di negeri orang, hormatilah sesama ketika di negeri sendiri dan ketika bersua di negeri orang. Bersuaralah terhadap ketidak adilan terhadap yang tertindas sejak dari negeri sendiri dan buanglah kesombongan sebagai "bukan TKI" ketika anda hendak ke luar negeri. Dengan begitu, anda membangkitkan martabat orang Indonesia.

 

 

Posted by erland at 13:48:25 | Permanent Link | Comments (0) |