Friday, December 28, 2007

SELAMAT TAHUN BARU

Tahun 2007 segera berakhir.
Bagi sebagian orang waktu begitu cepat berlalu, hampir tak terasa. Bagi banyak orang lainnya waktu serasa lamban beranjak. Penguasa saat ini dan pengusaha semacam Abu Rizal Bakrie mungkin masuk kategori pertama. Bagi korban lapindo dan ibu-ibu yang menjerit dengan lonjakan harga tentu waktu serasa malas berganti.

Tahun 2007 adalah tahun yang penuh guncangan. Tahun yang sulit dan penuh nestapa bagi kebanyakan orang Indonesia. Ekonomi yang diberitakan membaik tak kunjung menyapa rakyat miskin dengan bersahabat. Antrean penganggur mengalahkan antrean minyak tanah. Jutaan mimpi tetap terkubur di belantara harapan tanpa pernah tahu kapan mendapat peluang jadi kenyataan. Begitupun, sang presiden masih sibuk bersilat lidah tentang angka kemiskinan yang menjemukan. KPK masih tetap bergulat dengan para pendekar korupsi yang tak kunjung jera. Mahkamah Agung tak bosan-bosannya mengaduk-aduk rasa keadilan dan menjadi bagian persoalan sistemik. Gerak pembangunan stagnan oleh ketakutan birokrat dan parlemen tetap sibuk memanjakan diri. Bencana tak kunjung usai dan selalu membuat kita terheran-heran karena begitu sulitnya bangsa ini belajar dari pengalaman masa lalu.

Tahun lalu bukanlah tahun prestasi. Anak negeri terus dirundung gelap seperti langit Jakarta akhir-akhir ini. Tak ada kepemimpinan yang mencerahkan dan tak ada pengelolaan energi sosial yang inovatif. Cerita kekuasaan tahun ini adalah cerita muram. Tak heran kaum mudanya menggeliat dan berteriak sekaligus beronani politik. Kaum tani tak bisa tersenyum, buruh menahan nafas, nelayan tersenal-sengal dihantam harga BBM dan ombak tak bersahabat. Entah dimana bersembunyinya harapan. Bangun pagi terasa kaki malas melangkah dan malam sulit menjemput tidur. Macet dimana-mana karena jalanan diserobot busway dan BBM terus melambung tinggi. Kartu kredit juga ikut-ikutan macet karena digoda oleh rayuan konsumerisme yang edan-edanan.

Pemerintah punya waktu dan sumber daya untuk berbuat. Tapi aparat seperti kehilangan minat memperbaiki nasib negeri. Semua sibuk memperkaya diri dan bersiap-siap menyongsong pemilihan umum yang masih dua tahun lagi. Entah apa dosa lahir di negeri ini, hidup susah dan matipun masih menghadapi masalah. Kalau sudah begini apa kita butuh pemerintah dan partai politik? Apa relevansinya punya sistem hukum dan demokrasi?

Tapi kita tentu tidak boleh terjerembab dalam apatisme dan teresat dalam anarkisme. Nasib kita adalah hasil doa dan pergumulan kita sendiri. Nasib bangsa kita adalah resultan dan upaya kita pribadi lepas pribadi. Pemerintah boleh berganti dan pengusaha boleh bangkrut.
Tetapi perubahan adalah milik kita anak negeri. Jika kita terus berjuang di tempat kita masing-masing dan pada waktunya bersama bergerak maju, bukan tak mungkin masa depan menjadi milik kita. Mari kita rebut kesempatan dan kita singkirkan pengabaian.
Selamat Tahun Baru 2008.
Posted by erland at 13:58:42 | Permanent Link | Comments (0) |

Wednesday, December 12, 2007

Mega Menyapa Rakyat?

Saya sudah mem(p)esona!
Demikian jawaban Megawati atas kritik Andi Mallarangeng terhadap safari “Mega Menyapa Rakyat” yang dilakukan mantan Presiden RI itu. Safari Megawati menemui basis partainya dan rakyat kecil, dari ujung barat ke ujung timur pulau jawa itu memang melahirkan pro dan kontra. Banyak yang berpendapat seperti Andi, sang jubir istana bahwa manuver Megawati tak lebih dari sekedar tebar pesona, mencari kesempatan menyerang lawan saat pemerintah menghadapi banyak persoalan. Ada lagi yang berpendapat bahwa itu adalah sebuah langkah mencuri start kampanye. Tetapi tidak kurang pula yang berpendapat bahwa langkah Ketua Umum PDI Perjuangan itu adalah hal yang lumrah dan positif.

Dari sudut pandang komunikasi dan etika politik, saya cenderung berpendapat bahwa langkah Megawati itu adalah pantas dan sudah seharusnya. Mengapa? Adalah tugas partai dan kandidat politik untuk berkomunikasi secara intensif dengan rakyat, terutama basis partainya. Apa jadinya kalau partai/kandidat politik baru sibuk turun ke bawah hanya menjelang pemilu? Partai/kandidat yang baik tentu akan melakukan pengembangan citra dan positioning di antara dua pemilu, bukan dua bulan menjelang pemilu. Dari sudut pandang “penantang”, tentulah sah untuk mencoba merayu dan meyakinkan pemilih jauh-jauh hari, sebab incumbent memiliki peluang tak terbatas untuk melakukan hal yang sama selama 5 tahun masa jabatannya.

Kegiatan turun ke bawah ini justru bisa menguntungkan semua pihak. Rakyat diuntungkan oleh publikasi dan saluran politik yang menyertai kegiatan itu, sehingga aspirasi mereka bisa didengar. Dari sisi pelaku kegiatan “turba” ini, mereka bisa “menguji” loyalitas konsituen, mendapatkan input public dan memeriksa mesin partainya. Disamping tentu saja, publisitas dan popularitas.

Dari sisi pemerintah, ini adalah kesempatan untuk mendapatkan masukan tentang kekuatan dan kelemahan pelaku kegiatan. Tak kalah pentingnya tentu mendapatkan masukan tentang issu yang up to date sebagai bahan pengembangan kebijakan public. Bagi kompetitor Megawati, kegiatan ini dapat menjadi cermin bagi realitas internal dan eksternal mereka sendiri. Rakyat pun tentu akan senang jika semua partai dan kandidat politik semakin sering turun ke bawah. Media senang karena selalu punya berita baru, pakar juga terus mendapat order analisis.

Yang menjadi persoalan adalah jika Megawati dan PDI Perjuangan tidak melakukan follow up terhadap kunjungan-kunjungan itu. Dengan segera konstituen dan public akan mengukur kadar keseriusan dan kualitas Mega dan PDI Perjuangannya. Langkah selanjutnya adalah, Megawati harus menggerakkan seluruh sumber daya politiknya untuk memenagkan hati dan pikiran massa. Komponen legislative partai harus secara serius mendorong lahirnya legislasi, terutama anggaran yang pro rakyat. Komponen eksekutifnya tentu harus dirangsang untuk menghasilkan kebijakan public yang berpihak pada peningkatan kemakmuran rakyat. Struktural partainya hendaklah dilecut agar “hadir” dalam relaitas massa, tidak terasing dari konstituen dan public. Semua ini perlu dilakukan jika tak hendak disamakan dengan SBY yang gandrung tebar pesona.

Kita juga layak menantikan partai-partai yang lain melakukan hal serupa, turun ke “bumi” dan membuat politik (actor, proses, output dan kelembagaannya) menjadi “relevan” bagi masyarakat. Sudah terlalu lama politik kita terkonsentrasi pada kekuasaan (power politics) dan cenderung abai pada persoalan nyata rakyat (people’s politics). Politik sebagaimana dikatakan J. Leimena, adalah cara untuk mengabdi lewat kekuasaan. Sebuah panggilan moral dan ideologis. Bukan semata-mata cara memperoleh, mempertahankan dan memperbesar kekuasaan. Jika hanya untuk kekuasaan, politik dan demokrasi tidak akan ada manfaatnya bagi rakyat kecil seperti anda dan saya.

Posted by erland at 14:20:46 | Permanent Link | Comments (1) |