Sunday, September 03, 2006

SELAMAT ULANG TAHU ARO!

Hari ini si bungsu AlvaRO berulang tahun yang kedua. Si tampang preman berhati lembut yang bau tubuhnya selalu membikin rindu tak tertahan. Si kecil ini tak pernah mau mengalah dan kalau bicara suaranya lantang. Dia paling marah kalau abangnya diganggu atau dibikin jengkel.

Berbeda dengan eRlan, si bungsu ini makannya banyak. Susah tertawa tetapi kalau tertawa begitu indah dan bikin semua orang bahagia. Kelihatannya dia tipe penebar pesona yang suatu saat akan bikin jatuh hati banyak perempuan. Sorot matanya tajam, beda dengan abangnya yang lembut dan bersahabat. Dia sangat penurut tapi kalau sudah jengkel tidak bisa dibujuk dengan mudah. Hatinya selalu riang tetapi sangat waspada terutama terhadap orang lain yang baru dikenal, atau terhadap orang yang dikenal tetapi tidak terlalu disukainya.

Aro jauh lebih tegar dari abangnya yang punya mood seperti cuaca Inggris, gampang berubah. Tidak suka menarik perhatian dan juga tidak suka basa basi. Kalau mamanya pulang kantor, si mbak yang menjaganya tidak diperbolehkan turun dan siperintahkan menjauh darinya. Ini kelakuan yang selalu bikin mamanya bahagia karena merasa dibutuhkan. Aro tahu kalau dia cuma punya waktu satu jam bermain dengan mama sebelum diperintahkan tidur.

Setahun lalu - seminggu sebelum berangkat untuk berwisata intelektual ke begeri dingin ini, kami merayakan ulang tahunnya yang pertama. Hari ini, diulang tahunnya yang kedua, aku baru akan tiba seminggu sesudahnya. Akkhh, setahun yang melelahkan dan menyakitkan karena jauh dari aro, dari eyan dan juga mamanya. Tapi sudahlah, tak lama lagi aku kembali ke pelukanmu dedek aro! Nanti kita bermain-main sepuasnya, kita pijetin lagi si abang kalau dia nggak enak badan atau baru bangun tidur. Kita pijetin lagi mama yang kecapean pulang dari kantor ya sayang. Selamat ulang tahun untukmu, papa kangen dan mencintaimu selalu!

 

 

Posted by erland at 10:49:19 | Permanent Link | Comments (0) |

RINDU PULANG, PULANG SAJA SENDIRI!

Seminggu lagi aku kembali ke Jakarta. Beban berat menulis disertasi sudah mulai mencair dan tak lama lagi aku kembali ke pelukan dua jagoan dan istriku tercinta. Sudah beberapa hari eRland mogok bicara, dia menghukumku karena tak juga pulang. Ini bermula ketika istriku harus ke India untuk sebuah program pelatihan. Kelihatanya dia tak kuasa menanggung kedua orangtuanya lagi-lagi meninggalkan dia dan adiknya. Tepat ketika istriku kembali ke Jakarta minggu lalu eRland mulai demam, keihatannya dia sudah dibatas ketidaknyamanan ditinggal orang tua. Sebagai akibatnya dia menjadi menyanyangi mamanya bahkan tak mau lepas dan sebaliknya menghukumku karena tak jga muncul di depannya. Hanya mamanya yang bisa diandalkan karena selalu pulang saat ia butuhkan.

"Papa pulang saja sendiri katanya', ketika kukatakan aku akan segera pulang dan minta dijemput. Papa kan sudah besar, bisa pulang naik taksi!

Bulan lalu dia marah karena kukatakan akan pulang sendiri dan bilang akan bergabung di Singapura. "Koq Singapur, papa kan di London?" Nanti November saja ke London nak, jawabku, sekalian nemanin mama yang ada tugas. Ahh, nggak mau, kan ke London mau jemput papa, bukan nemenin mama? Ya sudah, nggak usah ke Singapur, papa pulang saja sendiri, mama juga selalu pulang sendiri! Ahh, dasar anakku memang susah diajak tawar menawar. Padahal maksudnya ke Singapura untuk menghibur dia yang untuk ketiga kalinya harus menunda keinginannya untuk ke London. Aku mengira dia bisa "diatur" sesuai rencana dengan istri tetapi ternyata dia punya jalan pikiran sendiri. "Ke London kan buat jemput papa, bukan nemenin mama!"

Sekarang dia sedang sangat marah dan mogok bicara denganku. Ketika mamanya pulang minggu lalu, dia bisikkan ke telinga mamanya, "bang eyan sayang mama, eyan anak mama...bukan anak papa! Dedek saja yang jadi anak papa! Biar dedek sayang papa, eyan nggak! Duh gusti, benar-benar dia marah. Hari-hari menjelang kepulangan malah jadi bertambah berat, hati gundah gulana.

Entah apa yang harus kulakukan untuk menebus waktu-waktu yang hilang anakku! Tak ada sedetikpun keindahan dalam hidup ini setahun jauh dari mu. Insomnia yang makin memburuk menjadi bukti betapa susahnya terlelap tanpa membayangkan enaknya mencium bau keringatmu. Kau lewati setahun dengan begitu tegar sementara aku terseok-seok di tengah dingin dan kesepian. Aku mencintaimu anakku, melebihi hidupku!

Posted by erland at 10:26:46 | Permanent Link | Comments (0) |