Wednesday, August 30, 2006

Marissa dan Pilkada

Pilkada Banten sedang berproses. Partai-partai sibuk berhitung dan mengelus jago masing-masing. Kali ini Marissa Haque, politisi 'selebritis' di kandang moncong putih kembali membuat berita. Gagal di Jawa Barat kini sibuk bersilat di Banten, negeri para jawara. Banten adalah fenomena menarik, sebuah daerah di luar lingkar Jakarta dimana masyarakatnya hidup di dunia berbeda, sebuah dunia persinggahan, dunia antara. Di sini, jawara adalah kapital politik yang pantas diperhitungkan.

Ada tiga hal yang menarik dari soal Banten dalam urusan perhelatan pilkada ini. Pertama, 'kemungkinan' menikahnya politik sekular (PDI Perjuangan) dan politik religius (PKS) dalam bentuk calon kepala daerah. Kedua, isu soal loyalitas kader terhadap partai dan, Ketiga, demokrasi internal partai.

Dalam soal pertama, kemungkinan ini bukan sesuatu yang aneh dan bukan yang pertama. Meskipun dalam kasus Banten lebih besar kemungkinannya bahwa ini tidak akan terjadi. SBY adalah calon aliran sekular tetapi pendukungnya datang dari kedua spektrum politik - nasionalis-sekular dan ideologi agama - baik dalam bentuk pemilih dalam pilpres maupun di parlemen. Yang menjadi isu di sini adalah sejauh mana perkawinan politik praktis seperti ini membawa manfaat bagi para pemilih di daerah itu, jika mereka berhasil memenangkan pertarungan. Apakah kita akan melihat kompromi dalam bentuk kebijakan-kebijakan publik di wilayah itu? Atau hanya berhenti pada tawar menawar di tingkat elit saja.

Isu kedua menjadi penting mengingat banyak kader yang ingin maju dalam pilkada tetapi tidak mendapat dukungan dari pengurus partainya. Pertanyaannya adalah, apakah para politisi yang bersikukuh itu melakukan hal yang tidak etis sehingga pantas diberhentikan oleh partai yang bersangkutan. Di satu sisi ini bisa berdampak pada hilangnya independensi politisi karena mereka tidak bisa mengikuti suara hatinya, terlebih ketika partai mengambil keputusan yang salah. Di sisi lain, bagaimana partai bisa melakukan institusionalisasi jika para kader sibuk menentang kebijakan-kebijakan partai. Sampai dimana batas antara pantas dan tidak pantas, etis dan tidak etis? Apakah konstitusi organisasi cukup menjadi acuan dalam hal ini?

Ketiga, sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam penggodokan calon kepala daerah, jual beli kendaraan sudah menjadi hal yang lazim. Meskipun PDI Perjuangan dalam hal ini sudah mencoba melakukan konvensi secara terbuka dalam penggodokan calon, dibarengi dengan riset untuk melihat electability para calon itu. Perlu dikaji sejauh mana demokratisasi internal sudah diterapkan dalam memilih calon-calon kepala daerah, terutama dalam kasus ini. Kegagalan dalam melembagakan proses-proses politik yang peka seperti ini hanya akan menyandera proses modernisasi partai dan pada akhirnya kemajuan bangsa ini.

Marissa adalah selebritis dengan ambisi politik yang lumayan besar. Banyak yang menuding bahwa sering merasa lebih besar dari yang sebenarnya, baik dalam kiprah di parlemen maupun di dalam partai. Bersengketa dengan Marissa bisa berdampak buruk bagi popularitas PDI Perjuangan, terlebih jika dia menang. Sebagai seorang yang populer, seorang perempuan dan pendatang baru yang dianggap bersih dari doa masa lalu, Marissa tentu bisa jadi kampanye yang buruk bagi PDI Perjuangan. Tampaknya partai ini harus mengelola komunikasi politiknya dengan cerdas dalam persoalan ini. Menjadi buruk ketika partai ini meletakkan perdebatan soal ini hanya pada soal disiplin atau tidak, direstui atau tidak. Mereka harus 'membekukan 'isu ini dari sudut yang bisa memberikan image positif bagi partai, jika memang begitu adanya.

Yang menjadi pertanyaan bagi publik adalah apakah memang ada masalah yang esensial dalam kasus Marissa selain soal restu merestui dan soal menang atau tidak dalam pilkada?

Posted by erland at 10:46:02 | Permanent Link | Comments (3) |

Wednesday, August 16, 2006

MERDEKA!!!!

Merdeka!!!!

Setahun lagi bertambah usia republik. Manusia berusia enam puluh satu tahun sudah dikatakan tua, angka rata-rata harapan hidup manusia Indonesia malah cuma enam puluh lima tahun. Sebagai republik, enam puluh satu tahun adalah usia yang muda. Apalagi jika dihitung masa tiga puluh tahun lebih Soeharto dengan orde barunya sebagai masa yang hilang bagi pembentukan sebuah bangsa yang ajeg.

Enam puluh satu tahun usia republik rasanya lebih pas kalau dirayakan dengan mengurut dada yang sesak. Ini adalah masa-masa yang sulit, benar-benar sulit. Tumbangnya rejim Soeharto membuka peluang bagi perbaikan bangsa ini, semaca "rocking the boat" menuju nation building yang lebih berkeadilan dan manusiawi. Meskipun banyak kemajuan tetapi tak kurang juga kemunduran, persis tarian poco-poco kegemaran ibu-ibu jaman reformasi ini. Maju satu langkah lalu mundur dua langkah kemudian berputar-putar....maju lagi satu langkah lalu bergeser ke kiri dan ke kanan, mundur lalu berputar-putar. Persis seperti itulah perjalanan republik ini sejak1998.

Di saat bangsa-bangsa lain berpacu menuju kemajuan di republik ini malah orang berlomba menambah lubang di perahu bernama Indonesia. Koruptor tak jua berkurang meskipun berbagai lembaga dan kewenangan dibentuk dan didirikan. Alam dikuras dan diperjual belikan dengan murah baik oleh para begundal maupun oleh petinggi negeri. Modal sosial dikuras oleh kepentingan elit, kelompok, suku, agama dan klik kepentingan. Energi sosial dihamburkan dengan pertarungan soal ideologi negara dan hegemoni kelompok fundamentalis puritan. Ekonomi tak jua membaik meskipun kita sudah membungkuk bahkan memperkerjakan para hamba tuan modal di puncak hirarki istana. Lapangan kerja tak bertambah, harga-harga tetap mahal, buruh tetap dipecat, modal tetap lari dan investasi tak sudi masuk. Guru tetap terlantar, pegawai negeri tetap korupsi, tentara dan polisi sibuk pungli, politisi sibuk merampok negeri. Di jantung istana, petinggi sibuk berkelahi. Bencana datang silih berganti.

Ahh, enam puluh satu tahun rasanya republik ini semakin renta. Apakah masih ada harapan di tangan generasi yang ada sekarang. Para aktivis sibuk berdiskusi, para pegiat politik sibuk mengais rejeki, para akademisi sibuk mengejar proyek sedangkan para pemimpi tetap bermimpi. Betapa gambaran yang buram hingga setiap keping optimisme rasanya begitu kurang ajar dan menyakitkan. Perlu berapa orang yang marah untuk mengubah situasi ini? Apakah lebih baik berpaling dan mengais rejeki di negeri orang? Mengaharapkan cek setiap bulan, menapak hari hingga akhir masa tanpa peduli persoalan bangsa? Betapa mudahnya memalingkan muka tetapi begitu sulit membohongi jiwa.

Kapan republik ini merdeka dari kedunguan, dari angkara murka, dari kebencian, dari semangat-semangat purba? Kapan kita bisa bersama melawan pembodohan, penghisapan dan penindasan? Enam puluh satu tahun usia republik, benarkah kita sudah merdeka???? Masih berapa banyak orang terjajah oleh rasa takut di seantero negeri? Takut akan keamanan diri, takut besok makan apa, takut besok bisa beli obat atau sekolah?

 

London, sepuluh menit sebelum 17 Agustus 2006

Sejuta cinta untuk republik! MERDEKA!!!

Posted by erland at 11:50:03 | Permanent Link | Comments (0) |