NIGERIA 1
Ketika pertama dapat undangan ke Nigeria, gambaran yang muncul dalam pikiranku adalah; panas, kering, perang saudara, kelaparan dan sebagainya yang buruk-buruk. Aku sempatkan diri menjelajahi dunia maya untuk mendapat gambaran yang lebih lengkap tentang negeri itu, sebelum mengambil keputusan apakah akan pergi atau tidak. Negeri terpadat di Afrika dengan lebih kurang 150 juta penduduk, kaya dengan minyak bumi dan sepak bolanya lumayan maju. Negeri ini selama tiga puluh tahun hidup di bawah rejim militer, dari satu kudeta ke yang lain dan baru tahun 1999 dan 2003 melakukan pemilu menghasilkan pemerintahan sipil. Presiden yang sekarang Olusegun Obasanjo, adalah mantan penguasa militer yang memimpin transisi menuju pemerintahan sipil.
Nigeria adalah negeri yang sangat heterogen, terdiri dari berbagai suku dan beragam bahasa. Negeri ini terbagi dalam enam zona geopolitik yang sangat kuat dimana daerah utara umumnya dihuni mayoritas muslim sementara di selatan mayoritas kristen, di tengah-tengah biasanya lebih berimbang. Daerah kaya minyak di tenggara termasuk daerah yang paling miskin, persis kisah rakyat papua, orang dayak dan aceh. Ibu kota Abuja, dibangun sekitar tahun 80-an dan sejak awal 90-an mulai berfungsi sebagai pusat pemerintahan yang sebelumnya berada di Lagos. Kota Abuja mirip kisah seribu satu malam, well organised, tata kota yang sangat rapi, kualitas jalan yang baik dengan gedung-gedung tinggi, mewah dan mutakhir. Betul-betul membuat iri ketika mengingat Jakarta yang sumpek dan sesak. Tetapi seperti kebanyakan pemerintah yang tidak peduli rakyat, kebijakan perumahan untuk kaum miskin luar biasa parah. Aku teringat tragedi pendatang di Batam, mereka tinggal berdesakan dipinggiran kota tanpa hak legal dan setiap saat buldozer meluluh lantakkan perumahan kaum miskin itu. Betapa susahnya memihak rakyat sendiri yang sekedar bertahan hidup atau mencoba hidup lebih layak.
Ada hal yang menarik yang aku rasakan ketika pertama mendarat di bandara. Perlakuan terhadap pendatang berkulit putih lumayan tidak bersahabat, sementara aku merasa mendapatkan kemudahan. Aku bukan rasis, tapi pada titik itu sekilas aku sedikit merasa senang, entah karena persahabatan yang mereka tunjukkan atau karena sikap tidak bersahabat kepada mereka yang berkulit putih itu.
Nigeria, mungkin juga Afrika adalah tempat pembuangan sampah mobil terbesar di dunia dan terutama dari Eropa. Sama seperti belahan dunia lain, produk-produk murah dari Cina membanjiri seluruh penjuru kota dan daerah. Begitupun, baru-baru ini pemerintahnya memberlakukan proteksi terhadap produk tekstil untuk menyelamatkan industri dalam negerinya. Waktu berkunjung ke Bauchi, kami mampir makan siang di sebuah restoran yang menyajikan hidangan indomie. Mie instan dari Indonesia ini sangat populer di sini dan bahkan di seluruh Nigeria.
Di luar kota Abuja, suasananya sangat kontras dan tak ada kesan modern seperti ibukotanya yang megah itu. Tetapi paling tidak jalan-jalan yang saya lalui di dua negara bagiannya berkualitas sangat baik. Kemiskinan terasa, kekeringan dan kekerasan hidup. Ditambah panas matahari yang begitu menyengat membuat persaaan tak nyaman. Setiap keluar kota pasti bertemu blokade jalan oleh polisi yang bersenjata senapan serbu. Pasukan polisi ini dibentuk seperti brigade mobil yang mereka pelajari dari Indonesia. Polisinya terbagi tiga, polantas (yang persis tukang parkir); lalu brimob yang menenteng senapan kemana-mana lalu reserse.
Orang-orang Nigeria sangat percaya diri dan dibanding negara lain di Afrika mereka lumayan maju. Hanya saja, tiga puluh tahun diperintah rejim militer silih berganti dan terakhir pemerintahan sipil (pensiunan jendral) membuat kehidupan rakyatnya tak banyak berubah. Korupsi sangat kental dan dalam hal ini koruptor Indonesia kalah satu tingkat dengan koruptor dari Nigeria. Kalau mendengar laporan tentang besarnya uang dikorupsi seorang pejabat, bikin korupsi di Indonesia kedengaran seperti amatiran. Fasilitas sosial jangan ditanya, persis di daerah pedalaman di Indonesia. Listrik sangat labil, sehari bisa mati berkali-kali dan kalau di daerah listrik bisa padam berhari-hari. Orang disini memperlakukan mesin gen-set seperti mobil mewah.
Ok, sampai di sini dulu. Nanti kita lanjutkan dengan situasi politiknya.





