Meja Reot dan Komunikasi Presiden
Minggu lalu Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) menunjukkan kemarahannya ketika melihat kondisi sekolah di Kepulauan Seribu. Kunjungan di dua sekolah disela-sela liburan di pulau mewah milik politisi Golkar dan pengusaha media serta perhotelan, Surya Paloh itu menjadi berita karena sangkin kesalnya SBY sampai membanting meja SD yang dalam kondisi reyot itu. Tak kurang kesalnya SBY karena melihat kondisi fisik bangunan dan kebersihan yang di bawah standard.
SBY benar ketika mengatakan bahwa sarana yang buruk dan kebersihan lingkungan yang rendah itu akan berdampak pada kualitas anak bangsa yang menghabiskan enam tahun pendidikan dasar di dua sekolah itu. Pendidikan adalah jantung peradaban bangsa yang menentukan apakah bangsa ini akan mampu bersaing dalam era yang sangat kompetitif di masa depan. Dalam konteks ini, pendidikan dasar adalah fondasi kemajuan bangsa karena di sana anak-anak memperoleh bekal dasar untuk modal mereka di masa depan.
Tetapi kelihatannya SBY menggampangkan persoalan dan tidak menunjukkan sikap seorang CEO yang baik dan juga tidak sikap negarawan yang ulung. Entah apa yang ada dibenaknya tentang situasi dunia pendidikan kita, baik isi maupun infrastrukturnya saat ini atau di masa lalu, dan tidak jelas juga mimpinya di masa dean. Kita tahu bahwa kualitas infrastruktur pendidikan kita terus melorot sejak 1998 karena krisis yang berdampak pada kemampuan negara. Hampir tidak ada investasi sosial baru dalam membangun atau memelihara infrastruktur pendidikan kita, baik lewat APBN maupun lewat INPRES yang sangat terkenal pada masa Soeharto. Dalam kondisi seperti ini, ketika kemampuan dan alokasi negara terhadap dunia pendidikan begitu minim, mayoritas pengeluaran negara untuk pendidikan adalah untk membayar gaji guru, apakah wajar dia marah? Tidakkah itu hanya menunjukkan ketidak pekaannya?
Otonomi daerah adalah soal lain, para pemerintah daerah juga tidak punya sense of priority dalam menggenjot kualitas pendidikan kita. Para Kepala Daerah lebih sibuk dengan usaha meningkatkan pendapatan daerah daripada memikirkan kualitas sekolah. Dalam situasi seperti ini, SBY seharusnya menunjukkan leadershipnya dengan membuat pendidikan menjadi prioritas, memberikan arah terhadap kebijakan yang dia miliki dan melakukan delivery terhadap sekto ini. Hal-hal di atas tidak terjadi tetapi SBY malah memilih mengumbar kemarahan, apakah ini tindakan yang tepat?
Insiden ini berakhir dengan happy ending karena SBY berjanji merogoh koceknya sebesar dua ratus lima puluh juta rupiah untuk perbaikan dua gedung sekolah itu. Suatu tindakan mulia tetapi jelas tidak pantas dilakukan. Mengapa? Tindakan populis seperti ini tidak memberikan dampak terhadap perbaikan infrastruktur sekolah di Indonesia, kalau itu yang menjadi tujuan sang Presiden. Bagaimana dengan puluhan ribu sekolah lain yang mungkin dalam kondisi yang tidak jauh berbeda, apa yang akan dilakukan oleh SBY? Apakah mereka harus menunggu liburan SBY yang berikutnya? Tindakan dermawan seperti ini hanya akan menarik kalau SBY bukan Presiden atau sudah menjadi mantan Presiden. Seharusnya SBY memanggil para pembantunya sekembalinya dia dari liburan, mendiskusikan persoalannya lalu mengambil keputusan tentang apa yang harus dilakukan. Bukankah dia seorang Presiden? Atau apakah dia puas hanya menjadi pilanthropis? Sampai saat ini kita tidak mendengar ada gebrakan lair dari istana maupun dari departemen yang terkait.
Kelihatannya SBY mencoba melakukan komunikasi politik gaya Soeharto, yang lewat mimik muka atau kebisuannya mampu berkomunikasi kepada para pembantunya. Tetapi bahkan Soeharto pun dimasa jayanya selalu melakukan tindak lanjut terhadap pemikirannya, sekontroversial apapun itu. Bagaimana dengan SBY? Saya tidak melihat budaya dan struktur politik saat ini masih bisa menerima komunikasi politik seperti itu lagi. SBY harus bicara jelas, memiliki policy yang jelas dan melakukan delivery! Kalau tidak, beristirahatlah dengan damai di pulau milik konco anda itu atau tidurlah dengan lelap di istana. Tanpa presiden, republik ini masih akan tetap hidup koq!





