Sunday, March 26, 2006

Not In My Backyard

Bulan Desember yang lalu BBC mengangkat kasus ekspor sampah dari Inggris ke Indonesia. Sampah tersebut, sekitar tujuh kontainer dikirimkan sebelum melalui proses recycle yang seharusnya. Sampah tersebut berasal dari daerah Islington, di pusat kota London yang terkenal karena di daerah tersebut (Highbury) berdiri stadion kebanggaan klub Arsenal. Sampah-sampah tersebut seharusnya di recycle oleh perusahaan di Inggris tetapi terdampar jauh sampai ke Jakarta. Para penduduk Islington membayar pajak cukup tinggi dalam bentuk council tax agar sampah-sampah tersebut di recycle. Namun yang terjadi adalah perusahaan pengelola sampah itu mengirimnya langsung ke Indonesia.

Mengelola sampah dengan recycle memang butuh biaya dan kapasitas pengelolaan samapah di London ternyata kesulitan mengatasi perilaku over consumption warga. Secara hukum sampah itu tidak bisa dikirim sebelum diolah tetapi ternyata paradigma "not in my backyard" yang kental di tahun 80-an masih kental mewarnai corak berpikir para pengusaha itu. Dari segi biaya memang lebih murah dan dari segi proses lebih efisien untuk memasukkan sampah tersebut ke dalam kontainer dan mengirimnya ke negara dunia ketiga. Ini perilaku yang berbahaya. Paradigma not in my backyard ini berprinsip bahwa sampah-sampah itu tidak akan menjadi masalah bagi mereka. Padahal faktanya tidak tepat seperti itu sebab dunia ini ibaratnya satu kampung kecil dimana kerusakan lingkungan di satu negara pasti akan berdampak global dalan jangka pendek maupun panjang. Lihat saja kasus pemanasan global yang mempengaruhi bumi secara global. Lihat pula laju deforestrasi di Indonesia dan Brazil yang menyumbang terhadap abnormalitas iklim secara global.

Dari segi etis juga tindakan ekspor sampah beracun in sangat berbahaya bagi negara penerima. Dalam hal ini Indonesia yang penegakan hukumnya masih lemah sangat rentan terhadap kegiatan ilegal semacam ini. Indonesia tidak punya kapasitas mengelola sampah dengan baik dan masih sibuk berjuang mengatasi masalah sampah domestik khususnya di kota-kota besar. Lihat saja bagaimana kasus TPA Bojong masih terus menjadi masalah berkepanjangan dan belum terselesaikan hingga saat ini. Mengirimkan sampah ke negara seperti Indonesia adalah tindakan amoral karena sampah ini akan berakhir di daerah berpenduduk miskin. Penduduk miskin ini rentan karena akses mereka terhadap informasi dan sarana pelayanan kesehatan sangat rendah.

Kita tidak tahu apakah ini sebuah kasus yang acak atau merupakan puncak gunung es dari masalah sampah dunia yang diakibatkan pola excessive consumption. Kita harus memastikan aktivitas ilegal dan amoral ini dihentikan atau kita dan generasi yang akan datang hidup dalam bahaya. Kita tidak tahu dimana sampah itu dibuang, apakah di tengah laut atau di hutan atau di sungai atau di wilayah pemukiman di luar kota. Yang jelas suatu saat kita harus membayar mahal dengan kualitas limgkungan dan kualitas hidup yang terdegradasi.

Kita harus mengetok kesadaran penduduk di Inggris dan negara maju lainnya untuk menekan pemerintah dan perusahaan mereka agar menghentikan praktek berbahaya ini!

Posted by erland at 11:50:03 | Permanent Link | Comments (1) |

Sunday, March 19, 2006

PAPUA

Darah kembali tertumpah di tanah Papua. Tanah kaum yang tertindas, terpinggirkan dan menderita terlantar di tengah alam yang kaya raya dan pemurah. Alam yang dihisap dan dipompa ke luar, menyisakan ampas dan debu di depan barisan rakyat yang lusuh dan merana. Papua adalah cerita pilu bagi penduduk setempat, sebaliknya, sorga bagi peradaban yang tak kenal belas kasihan.

Apa sebab Papua terus menangis dan berdarah? Mengapa tak juga henti anak bangsa meregang nyawa dipusaran konflik yang seolah tak berujung ini? Papua adalah kue besar bagi para pemilik perusahaan raksasa global dan pundi bagi Jakarta. Ada Freeport di sana, British Petroleum dan banyak lagi yang menggerakkan keserakahannya di sana. Persoalan dasar bagi Papua adalah soal keadilan, keadilan bagi mereka yang berhak. Lantas apa jawabannya dan bagaimana menghentikan darah mengalir di tanah orang-orang lugu ini? Apakah otonomi khusus dan pemekaran wilayah tak memadai? Apakah merdeka adalah resep yang paling mujarab?

Otonomi khusus dan pemekaran adalah solusi Jakarta untuk Papua, dengan harapan soal Papua diselesaikan dalam bingkai republik. Keduanya kontradiktif menimbulkan syak wasangka. Otonomi khusus sebenarnya lahir dari niat baik, tapi nasionalisme sempit memenjarakan dan memanipulasi solusi ini hingga menimbulkan curiga. Pemekaran bukan tak punya sisi positif, ia memberikan kesempatan yang lebih luas karena membuka peluang bertambahnya lapangan pekerjaan, belanja publik dan akhirnya geliat ekonomi. Para elit Papua mempunyai wilayah yang lebih luas untuk bermain. Tapi inipun banyak jebakannya. Tak ada jaminan bahwa pada akhirnya orang Papua yang akan mengambil manfaat terbesar. Lagi-lagi yang muncul adalah syak wasangka, otonomi tak lain dari penyesatan dan pemekaran tak lain dari upaya pecah belah orang Papua. Sampai di sini rakyat Papua kebanyakan buntu, mereka terjebak ditengah retorika elit setempat dan elit Jakarta. Mereka juga terjebak dalam pusaran kepentingan dan intrik para pemain global yang tak kalah ganasnya.

Perjuangan bersenjata sudah dilakukan bertahun-tahun, hasilnya represi yang semakin mengental dan ratusan orang meregang nyawa. Para intelektual muda mencoba melihat ke masa lalu dan mencoba menulis ulang sejarah di luar pakem kekuasaan. Merdeka adalah kata yang digumamkan banyak orang di Papua kemarin, hari ini dan pasti akan menguat di masa depan. Inikah solusi untuk Papua? Setelah begitu banyak tipu terucap dan begitu banyak darah tertumpah, kiranya ini adalah pilihan yang akan diambil orang Papua. Pertanyaan yang penting diajukan adalah seberapa banyak dan seberapa jauh ini menjadi pilihan sadar orang Papua?Apakah ini bukan gendang para elit di tingkat lokal, nasional hingga pemain global? Gendang yang membuat orang-orang Papua menarikan tarian kematian seperti pelanduk yang diinjak oleh gajah-gajah yang bertarung? Dari apa sebenarnya Papua hendak merdeka? Apakah dari ketidak pedulian Jakarta dan anak bangsa ini secara keseluruhan? Apakah dari ketidak adilan yang begitu menyesakkan dan menyakitkan? Apakah dari elit, baik Jakarta maupun Papua yang memang tak peduli dengan kebutuhan orang-orang dunung dan lembah di tanah Papua? Apakah dari perlakuan kita terhadap mereka yang menganggap mereka sebagai orang asing, terbelakang dan abnormal di dalam bingkai republik? Apakah dari penghisapan yang begitu vulgar oleh mesin-mesin industri dan kerakusan modal?

Tak mudah memberikan jawaban bagi Papua karena persoalannya yang begitu kompleks. Persoalan mendasarnya adalah, republik ini membutuhkan Papua tapi Papua bisa hidup tanpa republik. Ini harus dilihat dan disadari oleh Jakarta sehingga memperlakukan Papua haruslah seperti memperlakukan anak yang lari dari rumah karena kesalahan orang tua. Bukan seperti memperlakukan anak nakal yang meradang karena alasan tak jelas. Jakarta harus memenangkan hati dan pikiran orang Papua dan membangun trust yang selama ini telah hilang karena keangkuhan petinggi negeri. Hal ini bisa dimulai dengan mendengar secara serius tuntutan Papua terhadap keadilan atas pengurasan sumber daya alam, kejahatan terhadap kemanusiaan dan pembangunan yang membuat Papua menjadi tuan di tanahnya sendiri. Jakarta bisa memulai dengan Freeport, perusahaan yang seharusnya membuat Papua bisa tersenyum tetapi malah sebaliknya menimbulkan petaka tak berkesudahan. Kalau ini tidak dilakukan, jangan heran jika Papua terus merana dan berdarah. Kitalah yang butuh Papua!

Posted by erland at 14:39:25 | Permanent Link | Comments (3) |

The Unfinished Revolution

Baru selesai baca buku The Unfinished Revolution tulisan Philip Gould. Gould adalah orang penting dibelakang pemenangan kampanye Bill Clinton yang pertama tahun 1992. Dan kemudian menjadi pembantu utama Tony Blair dalam memenangkan pemilu pertama bagi partai buruh setelah hampir 20 tahun dibawah pemerintahan partai konservatif. Bersama-sama dengan Blair, Peter Mandelsen, Alaister Campbell, Gordon Brown dan politisi-politisi muda lainnya, mereka melakukan modernisasi besar-besaran dan melahirkan New Labour. Partai yang baru mengalami modernisasi ini kemudian memenangkan pemilu dan kursi parlemen mayoritas paling besar sepanjang sejarah partai buruh di Inggris tahun 1997.

 

Gould lahir dari keluarga kelas menengah bawah, kedua orang tuanya guru dan berkat usaha kerasnya dia berhasil menyelesaikan pendidikan master di London School of Economics. Tertarik dan terlibat politik sejak muda dengan kegairahan luar biasa, Gould membangun karirnya jatuh bangun dengan instink dan obsesi untuk membantu partai buruh kembali berkuasa. Sejak masa mudanya ia sudah punya gambaran dan gagasan tentang mengapa partai buruh selalu gagal dari pemilu ke pemilu, dan baru kembali menang ketika ia menjadi bagian sentral dari perjuangan itu. Analisa politiknya luar biasa tajam, pemahamannya tentang kondisi social masyarakat dan didukung oleh semangat luar biasa serta kepiawaiannya dalam melakukan riset (terutama focus group) membuat dia menjadi penasehat politik yang sangat sentral, baik bagi Tony Blair maupun Bill Clinton.

 

Persepsi masyarakat Inggris terhadap partai buruh sebelum dimodernisasi menjadi New Labour sangat negatif karena beberapa hal seperti; pengaruh serikat buruh yang dominant, kecenderungan ideologinya yang dianggap ekstrim dan dogmatik, ketidak mauannya berubah sesuai jaman dan tuntutan pemilih, dan sebagainya. Partai Buruh Inggris ini dianggap sebagai partai sosialis paling dekaden di dunia modern pasca perang dunia kedua.. Hal ini dikarenakan kemenangan-kemenangan luar biasa dari partai-partai sosialis lain di se-antero eropa dan amerika. Dalam seratus tahun, partai buruh hanya berkuasa selama 20 tahun sementara konservatif kurang lebih 70 tahun. Sejak perang dunia II, partai buruh kehilangan dukungan dari pemilih muda dan pemula, kelas pekerja, dan selama tiga puluh tahun menderita penurunan dukungan secara konstan. Usaha perubahan bukan tidak dilakukan dan mengorbankan para pemimpin revisionis dan modernis sejak tahun 50an. Tetapi tentangan para serikat buruh, kaum konservatif partai, ekstrimis kiri membuat partai tersebut gagal merubah diri. Keadaan baru berbalik setelah Tony Blair cs berhasil mengubah Klausul IV dalam konstitusi partai buruh secara monumental, dan selanjutnya membawa partai tersebut menuju perubahan yang lebih dramatis dan signifikan. New Labour mengubah beberapa pandangan dasarnya tentang ekonomi (terutama berkaitan dengan privatisasi dan moneter), hubungan dengan serikat buruh, perbaikan sistem pelayanan sosial, dan menjangkau kelas menengah yang selama ini ditinggalkan oleh partai buruh. Para pemilih kelas menengah ini, yang dulu berasal dari kelas pekerja adalah kunci kemenangan New Labour selama tiga kali pemilu terakhir.

 

Bagaimana dengan partai-partai politik besar di Indonesia saat ini, adakah harapan mereka bisa dimodernisasi menjadi partai politik yang relevan di masa depan? Persepsi saat ini mungkin cukup pesimistik sebab mayoritas partai-partai itu masih terjebak dalam pusaran persoalan yang pelik. Banyak persoalan menghadang seperti masalah kepemimpinan, pengelolaan dan demokrasi internal, kaderisasi, persepsi public, system pemilu dan sebaainya. Partai-partai kita sulit dibedakan satu sama lain, bahkan yang berda di dalam satu spectrum ideology, taruhlah nasionalis dan atau  islamis. Tidak ada perbedaan yang signifikan tentang bagaimana partai-partai itu hendak menuju masyarakat yang di-idamkan, baik itu lewat pengelolaan ekonomi, kesejahteraan social, pendidikan dan sebagainya. Akibatnya, discourse tentang politik menjadi memuakkan karena dipenuhi atraksi badut dan sirkus politik yang tidak lucu. Parlemen bisa rebut berbulan-bulan hanya karena mengurus cara berpakaian masyarakat, tapi tidak ada debat panjang tentang alokasi APBN, strategi pembangunan dan ekonomi. Bagi saya, partai-partai itu tak lebih dari segerombolan orang yang sedang berebut kursi atau jabatan dan kemewahan ekonomi serta status social belaka. Tidak banyak debat tentang bangsa, yang ada kepentingan klik dan hitungan politik praktis jangka pendek. Tak ada tokoh-tokoh yang muncul untuk menyuarakan dan menggerakkan perubahan, yang ada hanya perpecahan dan pertikaian. Sungguh menyedihkan!

 

Pertanyaannya sekarang adalah, apa yang harus dilakukan orang muda dan mereka yang menginginkan perubahan? Tentu saja menjauh bukan jawaban karena hanya akan membuat para begundal kekuasaan semakin berjaya. Sebaliknya, saya mengusulkan mari masuk dan membuat perbedaan. Banyak yang mencoba dan gagal, but who knows if we really try hard then the future will be ours. Untuk yang masih peduli, saya ingin mengutip kalimat Hegel, to be what it really is, it must become what it is not”! Kalau anda tertarik tentang bagaimana suatu perubahan politik dilakukan, bacalah buku ini dan saya yakin anda pasti terkesan.

Posted by erland at 10:16:58 | Permanent Link | Comments (0) |