Monday, February 20, 2006

The Dual Primership

Jagad politik Inggris seminggu belakangan ini diramaikan oleh discourse tentang dual priemership, antara PM Tony Blair dengan Chancellor of the Exchequer, Gordon Brown. Sang Menkeu sudah lama dijuluki a leader in waiting dan publik sudah lama menanti tentang kapan Brown akan diberikan mahkota Prime Minister. Brown adalah sekutu erat Blair dalam mentransformasikan partai buruh menjadi New Labour di awal 90 an. Banyak kalangan mengatakan bahwa Brown adalah wakil Old Labour yang dalam banyak hal memiliki cara pandang berbeda dengan Blair yang murni pembaharu. Perbedaan antara kedua pemimpin partai buruh ini cukup rapi tersembunyi dan publik dalam hal ini media hanya bisa menduga-duga. Hanya sekali-sekali media berhasil mendapat bocoran tentang pertentangan kedua pemimpin mengenai isu-isu politik. Begitupun, kesamaan visi kedua pemimpin ini adalah dalam hal menarik partai buruh dari wilayah tradisional sosialis di spektrum kiri garis politik Inggris, yang dihuni oleh Partai Liberal Demokrat, partai terbesar ketiga saat ini. Kesamaan lainnya adalah bahwa keduanya sangat media consciuos yang mendapat sorotan tajam karena manajemen komunikasi mereka dianggap sebagai bentuk 'spinning'. Tudingan ini berkaitan erat dengan peran dan fungsi para pembantu terdekat kedua pemimpin ini yang sangat mendominasi agenda media. Publik, terutama pekerja media sangat familiar dengan nama-nama seperti Alistair Campbell dan Peter Mandelson di pihak Blair serta Charlie Whelan dan Ed Balls di pihak Brown. Para pembantu terdekat ini seringkali dianggap terlalu berkuasa hingga mempengaruhi atau mempolitisasi birokrasi yang terkenal sangat netral.

Setelah kemenangan dalam pemilu 2005 yang lalu dan dalam banyak kesempatan sesudahnya, Blair telah mengutarakan niatnya untuk mundur sebelum pemilu mendatang pada tahun 2009. Tetapi belum ada kabar yang jelas tentang kapan sang putera mahkota akan dilantik sehingga publik dan kalangan aktivis partai terus menanti perkembangan dari hari ke hari. Jarang sekali Gordon Brown memberikan pernyataan-pernyataan diluar lingkup tugasnya di bidang keuangan. Hal mana menurut kalangan dalam partai dan pemerintah adalah konsekwensi dari kesepakatan mereka berdua tentang wilayah masing-masing. Karena itulah menjadi aneh dan menimbulkan gairah para pengamat politik di Inggris ketika minggu lalu Gordon Brown banyak tampil di media dan memberikan statement politik diberbagai kesempatan mengenai isu-isu seperti UU Anti Terorisme, reformasi pendidikan dan sebagainya. Media dan para pengamat politik lalu ramai berspekulasi tentang kesepakatan tentang kepemimpinan ganda, atau sering disebut dual priemership.

Hal yang kurang lebih sama dalam konteks yang berbeda menurut banyak kalangan juga telah terjadi di Indonesia dalam periode pemerintahan SBY-JK saat ini. Banyak pihak yang menengarai bahwa ada matahari kembar dalam kepemimpinan saat ini. Publik sudah sejak lama mengetahui adanya pembagian tugas dan wilayah kerja kedua pemimpin ini, dimana SBY akan lebih banyak berkutat pada masalah-masalah politik, keamanan dan kebijakan luar negeri. Sementara sang wakil diserahi tugas di wilayah ekonomi. Yang membedakan antara SBY-JK dengan Blair-Brown adalah bahwa sejak awal pemerintahan JK sudah menunjukkan dominasinya atas SBY sehingga kelihatan jelas bahwa sang presiden kesulitan untuk menandingi wakilnya sendiri. Baik dalam mendominasi ruang komunikasi publik dan agenda setting maupun dalam pengambilan keputusan soal-soal yang krusial yang mendapat sorotan publik. Sementara dalam kasus Blair-Gordon, sang menteri sejak awal tidak pernah mencoba bersaing dengan sang perdana menteri dalam melakukan komunikasi politik maupun pengambilan keputusan. Kecenderungan JK yang super aktif dalam merespon isu politik, melakukan agenda setting dan pengambilan keputusan ini menimbulkan hubungan yang kurang harmonis yang kasat mata. Persaingan antara kedua pemimpin ini dalam banyak hal menjadi kontra produktif dan menimbulkan kebingungan dalam pemerintahan di satu sisi dan menyebabkan mereka rentan menjadi sasaran tembak pihak oposisi di parlemen.

Pertanyaan yang kemudian muncul dalam kasus dual premiership di Inggris adalah mengapa akhir-akhir ini sang menteri mendominasi wacana publik? Salah satu analisis adalah bahwa langkah Brown ini sebagai konsekwensi dari tantangan yang dihadapi oleh New Labour dan pemerintahan Tony Blair. Yang pertama adalah munculnya pesaing tangguh dari partai konservatif, Davis Cameron yang muda belia dan cukup kharismatis. Cameron, sebagaimana Blair dulu juga sedang mengembangkan gagasan New Conservatif yang berarti menarik partai itu lebih ke wilayah tengah dari spektrum politk dari basis tradisional di spektrum kanan. Cameron mengklaim bahwa dulu Blair telah mewarisi banyak gagasan Tatcherisme yang konservatif terutama di bidang ekonomi sehingga layaklah jika kini dia melakukan hal yang sama untuk mewarisi kepemimpinan Tony Blair. Kecenderungan ini dibuktikan dengan platform-platform politik berbau sosialis yang diusung oleh Cameron, seperti soal public spending, isu lingkungan dan reformasi pendidikan. Tantangan kedua yang dihadapi oleh New Labour adalah melemahnya kepemimpinan Tony Blair yang terbukti dari seringnya muncul perlawanan dari para anggota parlemen partainya sendiri (back benches) dan kekalahan dalam proses legislasi UU Anti Terrorisme.

Melihat kenyataan di atas maka bisa dikatakan bahwa sikap pro aktif Gordon Brown muncul sebagai taktik dalam menghadapi kedua isu utama di atas. Di mana Tony Blair memberikan panggung bagi Gordon Brown untuk menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin partai dan Perdana Menteri di masa datang. Brown berhasil memanfaatkan momentum ini tidak saja untuk menunjukkan siapa dirinya yang sesungguhnya tetapi juga menggalang dukungan anggota partainya di parlemen. Hal ini terlihat dari kemenangan pemerintah dalam pemungutan suara untuk legislasi UU Terorisme dan larangan merokok total di domain publik. Dalam waktu yang tidak terlalu lama kita juga akan melihat apakah taktik ini juga berhasil memenangkan UU Reformasi Pendidikan yang kontroversial dan menjadi taruhan politik Tony Blair.

Dalam kasus Indonesia, masalah matahari kembar adalah refleksi dari perbedaan kualitas dan gaya kepemimpinan. JK sejak lama sudah terkenal sebagai pemimpin yang berani mengambil keputusan yang tegas dan sulit karena pendekatannya yang sangat pragmatis dan pengalamannya dalam dunia bisnis. Sedangkan SBY sejak awal sudah dituding oleh lawan-lawan politiknya sebagai pemimpin yang peragu dan sulit mengambil keputusan yang tegas dalam kondisi krisis. SBY sangat mengutamakan harmoni dan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Untuk SBY ini adalah situasi yang sulit sebab sang presiden tidak bisa serta merta meminggirkan peran JK sebab kapital politik yang dimiliknya tidak sebanding dengan kekuatan politik JK yang cukup dominan di parlemen.  Kekuatan yang sangat dibutuhkannya dalam memastikan kebijakan-kebijakan politik yang diambilnya tidak mengalami kekalahan ketika membutuhkan pengesahan parlemen. Hal ini tentu sangat berbeda dengan situasi para presiden sebelum SBY dimana para pemimpin tersebut memiliki kekuatan politik yang lebih besar dari wakilnya.

Dalam kasus Blair-Brown kita melihat bahwa taktik dual premiership adalah buah dari strategi politik yang jitu meskipun memiliki resiko tinggi. Brown, jika pun akhirnya mewarisi mahota Tony Blair tentu membutuhkan legitimasi kepemimpinan lewat kemenangan dalam pemilu dan pertarungan kepemimpinan dalam partai buruh. Posisinya menjadi rawan jika dia harus terus menjadi bumper untuk memenangkan agenda-agenda pembaharuan yang tidak populis dari Tony Blair. Asosiasi yang terlalu melekat dengan Blair akan membuatnya mengalami kesulitan dalam "menjual" kepemimpinannya dalam pemilu Inggris tahun 2009. Banyak pihak di Inggris yang berpendapat bahwa Brown harus menarik garis yang tegas antara dia dengan Tony Blair agar dia bisa tampil sebagai pilihan baru yang segar, pada saat publik sudah mulai muak dengan kepemimpinan Blair yang kaku dan cenderung sentralistik.

Dalam kasus JK, banyak pihak menganalisis bahwa sikap pro aktif sang wakil presiden adalah bagian dari upaya membangun modal politik dalam pertarungan pemilu 2009. Jika ini benar adanya maka pemerintahan saat ini berada dalam situasi yang rumit dan cenderung kontra produktif. Banyak energi yang akan terkuras dalam membangun basis-basis dukungan dan sumber daya politik yang bisa berdampak dalam pelaksanaan pengelolaan pemerintahan secara efektif. Hal ini sudah terbukti dalam kasus reshuffle menteri baru-baru ini, dimana pertarungan dan klik dalam pemerintahan menyebabkan momentum perbaikan ekonomi terus menerus terlewati. Mohammad Qodari dalam salah satu tulisannya baru-baru ini mengatakan bahwa JK sudah mulai menahan diri dalam melakukan manuver-manuver politik. Satu hal yang patut dipandang positif sebab hal ini memberikan sinyal kepada publik bahwa Presiden benar-benar in-charge dalam kepemimpinan, dan disisi lain menunjukkan kedewasaan JK dalam berpolitik. Saat ini memang sebaiknya JK berkonsentrasi pada upaya mendorong efektifitas pemerintahan dan mengelola modal politik yang dimilikinya sebagai upaya untuk membuat pemerintahan saat ini bekerja secara maksimal untuk kepentingan rakyat. Dengan melakukan ini, kita bisa menilai kualitas kedua pemimpin sebagai team work yang padu dan menjadi landasan bagi penilaian kepemimpinan mereka tahun 2009 yang akan datang. Bukan sebaliknya, sebagai rival dalam satu pertarungan politik yang akhirnya akan mengorbankan kepentingan yang lebih besar, yaitu membawa bangsa ini keluar dari krisis yang tak kunjung selesai. Kepemimpinan ganda atau matahari kembar dalam organisasi manapun tidak akan memberikan keuntungan bagi para pemimpin itu, bagi pemerintahan dan apalagi bagi rakyat. Menarik melihat apa yang akan terjadi di Inggris dan di Indonesia tahun 2009 yang akan datang!

Posted by erland at 13:09:13 | Permanent Link | Comments (6) |

Monday, February 13, 2006

14 February 2006

Selamat Valentine sayang! Lembut suaramu menampar kesadaranku. Betapa setahun telah berlalu, sejak kita terakhir saling mengucapkan kata-kata itu. Sejurus kurasakan bersit keresahan dalam alunan suaramu. Ucapan sayangmu seperti riuh cemara dalam kebeningan malam di untaian bukit yang mengitari danau toba, melontarkan aku kembali pada kenyataan jarak yang memisah kita. Ahh, sesaat seperti aku tengah berada di perbukitan itu, sendiri, seperti dulu saat aku suka menyepi di sana.

Aku tak tahu berapa lama aku tercenung sampai aku mampu membalas ucapanmu, Selamat Valentine Mama!  Sontak aku teringat atas perdebatan kita tadi malam. Perdebatan yang menjengkelkan dan melelahkan atas dasar cinta!

Cintaku pada mu adalah cinta yang egois. Seperti seekor singa yang menjaga betinanya di padang yang buas. Padang itu adalah padang yang penuh kebusukan dan tipu daya, dimana apa yang nyata dan paling mengancam adalah apa yang tak terlihat. Apa yang terlihat adalah hal yang absurd dan membingungkan. Sungguh mengherankan, betapa cinta lebih sering menyebabkan adrenalin lebih berkuasa dari pada akal sehat.

Cintaku pada mu adalah cinta yang menggelegak, menuntut dan pencemburu. Cinta yang terkumpul dari duri-duri yang mengoyak jiwa sepanjang hidupku. Cinta yang membuatku pantas bersyukur dan bersujud di kakimu dan pada saat bersamaan resah sepanjang waktu. Seperti pengelana yang menemukan oase pada titik batas kehidupan dan ajal. Ahhh, betapa kau merubah hidupku! Betapa kau membuatku takut kehilanganmu sedetik saja.

Maafkan mama ya sayang, bisikmu ditelingaku. Tuhan, sepantasnya aku yang meminta maaf! Menghukummu karena jauh dari jangkauan pelukanku adalah kesalahan ku. Menumpahkan kemarahan padamu karena rinduku yang begitu menyiksa adalah kesalahanku. Membuatmu menangis karena  dibakar rasa tidak berdaya adalah kesalahanku.

Itulah cintaku. Cinta yang membutakan dan menyiksa tak terperi, saat terpisah, saat alam bawah sadar berkuasa. Saat segala yang disekitar memudar seperti pendar cahaya menjelang senja. Bahkan seekor singa gelisah saat malam menjemput.

Seperti apa cintamu mama? Seperti telaga di belantara yang rimbun, seperti hamparan pinus diperbukitan. Ada saat dimana kau tegar seperti karang dihempas badai. Ada waktu kau seperti halilintar dipelukan purnama, menggelegar saat badai mengancam. Ada waktu kau seperti ombak di samudera yang menghempaskan segala sesuatu tak tertahankan. Ahh, betapa aku bersyukur memilikimu. Sungguh aku tak menyesal menjadi pelayanmu. Bersamamu, hidup adalah proses bertumbuh yang menakjubkan.

Selamat Valentine, kekasih. Hidup jauh darimu adalah siksaan dan membuatmu sedih adalah kutukan. Betapa aku rindu harum rambut dan bulir keringatmu. Darimu aku belajar apa itu 'cukup', denganmu aku mengerti apa itu 'lengkap'.

Maafkan aku, untuk semua yang belum kulakukan untukmu selama setahun ini. Maafkan aku untuk semua kesalahanku sejak terakhir aku menggumamkan selamat valentine di telingamu. Izinkan aku bertumbuh dan menjadi lengkap bersamamu, sepanjang sisa hidupku. Tanpamu aku akan layu, mengering dan mati! Aku mencintaimu, selalu dan selamanya.

Amor Aternitas Corde! Cinta selamanya di hati!

Papa eRland dan Alvaro,

London, 14 February 2006

Posted by erland at 13:27:08 | Permanent Link | Comments (0) |

Friday, February 10, 2006

Puisi Buat Abang

Abang nggak mau terima telpon papa!

Buang saja handphonenya, nggak mau........

Ahhh, betapa hati ini remuk mendengar penolakan mu

Tak terperi rasanya, beku hati dalam sengatan dingin

Papa cuma mau bilang selamat ulang tahun anakku.............

Hanya ingin ungkapkan betapa bangganya papa,

telah kau lewati 3 tahun dengan gemilang..........

tiga tahun yang kau isi dengan wangi tubuhmu yang membius!

Kasihan mama mu, tak mampu menjawab tanyamu yang resah,

mana papa, mama..........kenapa belum datang juga?

Tanpa semangat kau tiup lilin di kue ulang tahun mu,

bersanding 'Batman', pahlwan kesukaanmu yang papa kirimkan dari negeri dingin

Ahh, aku tahu anakku...........tak ada alasan yang bisa kau terima saat itu

Telah kau jalani purnama lepas purnama tanpa papa dengan derita

Abang senang papa pulang! I

Itu kalimat pertama mu saat papa pulang, Natal kemarin

Saat kau melesat seperti peluru dan memeluk papa dengan mata memerah

Saat itu papa sadar, betapa kau menderita seperti  juga papa

Tak ada kata yang bisa papa ucapkan sayang,

Papa tahu kamu masih marah hingga detik ini

Biarlah ini jadi momen pahit buat papa

Sebuah titik kembali di masa depan untuk menghargai kehadiran dan cinta

Puisi ini untuk mu nak,

sebuah cara bagi papa untuk menghukum diri karena tidak berdaya

sebuah pelarian dari kesesakan........dari rindu yang menghimpit

dari cinta yang menghempas kesadaran

Papa titipkan gambar pesawat ini untuk mu

Papa tahu kamu benci pesawat karena membawa papa jauh dari mu

Tapi papa juga tahu kamu sangat menyukainya karena ia akan membawamu

bertemu papa yang kamu rindukan

Sabar ya sayang, bukan salah mu papa harus memisah diri saat ini

Air mata papa, doa-doa panjang di keheningan malam

adalah penghubung papa dengan mu

Biar kau tahu betapa bangga, betapa cinta papa padamu!

Istriku,

peluklah dia setiap pagi saat mentari menyapa

dan tiap malam ketika purnama tersenyum

katakan, betapa papa sayang padanya

Amor Aternitas Corde..............

 

Sejuta cium dan peluk hangat

untuk anakku, eRland

di ulang tahun ketiga, 8 February 2006

 

 

 

Posted by erland at 10:57:56 | Permanent Link | Comments (8) |

Friday, February 03, 2006

Kartun dan Peluang Komunikasi Lintas Peradaban

Dunia muslim sedang meradang, terbakar oleh "provokasi'' karikatur yang terbit di sebuah harian Denmark. Tak urung PBB pun menyatakan keprihatinannya atas insiden ini. Jalanan kota di negara-negara berpenduduk muslim pun memanas dan tak urung kantor-kantor pemerintah sibuk mendiskusikan apa yang harus dilakukan.

Mengapa semua in terjadi dan bagaimana kita memahaminya?

Dunia saat ini berada dalam suatu situasi dimana agama menjadi sumbu ledakan sosial politik yang signifikan. Pasca kekalahan rejim komunis dan dipicu oleh serangan 11 September, dunia barat dan timur sedang berbenturan atau tepatnya dibenturkan. Kecurigaan "muslim" atas agenda setting ''kristen" menemukan pembenaran dengan invasi Iraq dan Afghanistan. Sementara prejudis kalangan "kristen" terhadap fundamentalisme dan kebrutalan "muslim" menemukan pembenaran dengan maraknya terrorisme global. Meskipun sebenarnya terlalu rancu dan simplistis bahwa Al Qaeda dan terrorisme adalah refleksi yang benar dari muslim dan di sisi lain keganasan Amerika dan Geroge Bush adalah representasi kristen.

Dalam konteks seperti inilah kartun Nabi Muhammad tersebut menjadi sesuatu yang super duper sensitif. Adalah memalukan bahwa media yang cukup maju dan profesional seperti Denmark itu melakukan ketololan yang fundamental dalam situasi ini. Bahkan jika dunia barat dan timur sedang tidak dalam ketegangan yang serius, koran itu sepantasnya tahu bahwa Islam sangat sensitif soal gambar Nabi Muhammad. Fakta bahwa sepanjang peradaban islam tidak pernah satu kalipun ada gambar Nabi Muhammad seharusnya membunyikan alarm di harian tersebut. Sedikit waktu melakukan riset kecil atau sebuah telepon kepada seorang muslim pasti akan memberikan gambaran kepada mereka.

Mari kita lihat dari konteks media tersebut. Media di barat, sebagai mana masyarakatnya adalah produk liberalisme dan kapitalisme. Mereka menjunjung tinggi kebebasan berekspressi dari tingkat individual. Bahkan dalam soal agama, kebebasan ini bahkan sudah sampai pada tahap tanpa batasan sama sekali kecuali pada segelintir komunitas, wilayah atau demographi tertentu. Bagi kelompok di luar itu, agama tak lebih tinggi dari soal-soal lain dalam hidup ini. Hal ini tentu berbeda dengan konteks peradaban muslim yang masih sangat komunal dan tidak memiliki kebebasan "se-anarkis" barat. Bagi dunia muslim, agama beserta seluruh perangkat dan simbol-simbolnya memegang peranan yang signifikan.

Dari kasus ini, kedua belah pihak sebenarnya bisa mengambil manfaat yang optimal jika bisa mengambil hikmah secara positif. Situasi saat ini adalah kedua belah pihak "bermain" di kotaknya masing-masing.  melihatnya dari konteks kebebebasan, prosedur dan perangkat-perangkat nilai mereka sendiri. Sementara dunia muslim melihatnya dari sudut pandang keagamaan dan perangkat nilai mereka sendiri juga. Kedua belah pihak bisa berargumentasi kebenaran versi masing-masing dan bisa dipastikan akan menemukan kebuntuan. Diakhir cerita, jika ini terus terjadi kedua belah pihak akan merugi dan kehilangan kesempatan untuk melakukan perbaikan di masa depan.

Pihak barat sebenarnya bisa mengambil pelajaran positif dari kasus ini jika mereka bisa menggunakan kasus ini sebagai momentum untuk memahami lebih banyak tentang dunia muslim. Memahami di sini berarti menerima fakta bahwa mereka telah melakukan kesalahan dengan tidak melakukan upaya yang maksimal untuk mencegah terjadinya kasus ini. Tentu dalam perspektif bahwa saat ini dunia sudah begitu sempit akibat globalisasi informasi. Batas-batas negara sudah tidak jelas sehingga pertukaran nilai antar peradaban adalah sesuatu yang mustahil dihindarkan. Mereka tidak lagi bisa memandang bahwa mereka menerbitkannya dalam batas wilayah Denmark sehingga nilai-nilai merekalah yang menjadi acuan. Dalam era global seperti sekarang ini, batas negara adalah sesuatu yang imajiner sifatnya. Pihak barat, dalam hal ini Denmark seharusnya menggunakan momentum ini untuk menunjukkan kebesaran peradaban mereka sendiri dengan menunjukkan kemauan yang besar untuk melakukan komunikasi dan diplomasi lintas peradaban. Mereka harus berbicara dalam konteks komunikasi yang dipahami oleh peradaban di seberangnya. Mengapa hal ini perlu, sebab jika tidak mereka tentu akan mengalami kerugian besar baik secara ekonomi, politik maupun resiko-resiko lainnya.

Di sisi lain, dunia muslim seharusnya bisa mengambil manfaat dari situasi ini untuk mewartakan lebih jauh nilai-nilai Islam agar lebih dipahami oleh barat. Meradang, amuk massa dan kemarahan saja hanya akan membuat peluang komunikasi lntas peradaban semakin jauh dari harapan. Bahkan semakin menguatkan stigma bahwa dunia muslim adalah dunia kekerasan dan kemarahan sebagaimana yang selama ini menjadi template dalam persepsi barat. Dunia muslim seharusnya menjadikannya momentum untuk membuat keseimbangan baru dalam persepsi global, bahwa mereka mampu berkomunikasi secara positif dan produktif. Energi kemarahan yang ada di dunia muslim saat ini harus dikelola oleh para pemimpinnya agar tidak justru menjadi kontra produktif terhadap pewartaan kebesaran Islam.

Bagaimana hal ini bisa dilakukan? Menurut saya, harus ada pihak ketiga yang menjembatani komunikasi antar peradaban ini dan menjadikannya peluang untuk menciptakan dunia yang lebih saling memahami. Peran ini bisa diambil oleh EU/UN di satu pihak dan OKI di pihak yang lain. Mereka harus berani keluar dari kotak berpikir masing-masing dan berusaha menemukan solusi. Membiarkan persoalan ini lenyap ditelan waktu hanya akan menyuburkan pertikaian bahkan membawanya ke tingkat yang lebih berbahaya. Di sisi lain, komunikasi lintas peradaban juga harus bisa terjadi di tingkat individu, komunitas hingga nasion. Di dalam dunia yang terbuka dan menyempit seperti sekarang ini, bersikap defensif tertutup dan mau menang sendiri hanya akan menimbulkan kerugian yang tidak perlu. Sikap itu menghalangi kedua peradaban untuk bersinergi menciptakan dunia yang damai dan minim aroma kebencian dan darah.

Posted by erland at 05:43:21 | Permanent Link | Comments (2) |