IS IT ALL ABOUT IMAGE?
Kampanye politik SBY-JK pada pilpres yang lalu adalah sebuah contoh yang anyar tentang bagaimana image atau citra sangat penting dalam politik. Sebelum pilpres, SBY mendapat soroton media yang luar biasa terkait proses mundurnya dia dari kabinet. Media mendapatkan alternatif kemudian membungkusnya sebagai sebuah produk bagi publik. Sebuah tawaran atas kebekuan komunikasi politik Megawati, incumbent presiden pada saat itu.
SBY pun melangkah mulus dalam bertarung melawan nama-nama besar lain seperti Amien Rais dan Wiranto. AMien Rais adalah pasar bagi kaum modernis, muhammadyah, intelektual dan penduduk muslim kelas menengah perkotaan. Wiranto adalah pasar bagi kelompok establish dan mereka yang merindukan kestabilan dalam ketiak militerisme. Megawati sendiri punya pasar di kalangan bawah, baik urban maupun rural, kalangan berpendapatan dan berpendidikan rendah. Momentum politik yang terbungkus rapi dan menarik berkat kampanye yang efektif dan dukungan media, membuat SBY mampu mengungguli lawan-lawannya. Pemilih merasa mendapat pilihan yang secara subjektif dipersepsikan akan membawa perubahan.
Terlihat benar bahwa tim SBY sangat sadar dengan keuntungan yang ada pada figur SBY, dan mereka memainkannya dengan sangat baik. SBY mampu mendapat dukungan dari semua segmen masyarakat. Bahkan merupakan pilihan kedua dari pendukung kandidat-kandidat lainnya. SBY sendiri secara personal sangat menyadari pesona image bagi publik dan kekuatan media dalam mengkonstruksi persepsi. Terlihat betapa dia sangat media dan image consciuos dan sangat jelas lewat cara dia berjalan, berbicara, berpenampilan dan pilihan kata yang dipakainya. Semua ini mampu membius persepsi publik, merubah realitas tentang karakter dirinya sendiri dan membentuk persepsi yang dia inginkan.
Singkat kata, jadilah dia seperti figur yang dia bentuk dan bayangkan sendiri. Seorang pemimpin yang tegas, berwibawa dan akan membawa perubahan. Menjadikan Indonesia yang lebih baik, makmur, aman.....lewat jargon kampanyenya: BERSAMA KITA BISA! Berbagai cara dia tempuh dan secara serius tim nya melakukan packaging terhadap pesan serta menyasar target audiens yang jelas. Itulah sebabnya mengapa popularitasnya masih tetap tinggi hingga hari-hari ini. SBY adalah jalan tengah bagi semua pihak pada saat itu.
Tetapi setelah berkuasa dua tahun lamanya semua persepsi yang dibangun lewat pembentukan citra dan janji-janji itu mulai berbenturan dengan realitas. Realitas bahwa SBY bukanlah figur yang tegas, sebaliknya sangat peragu dan tidak bisa mengambil keputusan secara cepat. Waktu telah membuktikan betapa SBY bukanlah pemimpin yang berpihak pada rakyat sebab cara berpikir dan kebijakan yang dilahirkan pemerintahnannya ternyata malah terus membebani rakyat. SBY bukanlah figur perubahan, sebaliknya lewat bantuan JK dengan Golkarnya, SBY malah sedang mereproduksi perilaku orde baru. Mungkin ada pengaruh JK terhadap kinerja SBY secara keseluruhan tetapi tidak bisa dijadikan legitimasi atas buruknya kinerja SBY.
Berbagai janji-janji kampanye dalam pilpres kemarin akhirnya hanya jadi penghias lemari atau laci saja. Kaum miskin dan terpinggirkan tetap menjadi korban pertama dan utama dari kebijakan-kebijakan pemerintah. Meskipun mereka coba disuap dengan kompensasi langsung tunai (KLT), secara keseluruhan kelompok masyarakat bawah ini belumlah membaik keadaannya. Petani dan buruh tani tetaplah jadi korban langsung dari kebijakan impor beras. Tudingan politisasi isu perburuhan terhadap tuntutan buruh yang lapar dan menderita adalah reinkarnasi dari stigma orde baru. Memburuknya angka pengangguran menunjukkan betapa SBY tidak mampu mengkapitalisasi energi produktif yang didapatkannya pasca pilpres. Banyak sekali contoh tentang kinerja atau kebijakan pemerintahan SBY yang buruk, ambil contoh kenaikan BBM yang terbesar dalam sejarah, rencana kenaikan TDL dan entah apalagi yang akan menyusul.
Lantas mengapa dulu SBY bisa terpilih? Apakah semata-mata karena popularitas saja? Diluar masalah citra, bisa dikatakan bahwa SBY saat itu mampu mengisi kesenjangan ekspektasi publik terhadap pemimpin dan situasi yang diharapkan akan terjadi. Figur SBY menemukan momentumnya dalam pasar politik yang sesuai sehingga laris manis. Itulah kenapa dia mampu menarik dukungan dari semua segmen masyarakat dan memenangkan pilpres. Tetapi patut disadari oleh SBY dan pembantunya, popularitas itu ibarat kunci untuk masuk ke dalam sebuah rumah yang tidak terawat dimana dia diharapkan mampu merubahnya menjadi rumah yang nyaman untuk ditinggali. Dibutuhkan lebih dari sekedar popularitas, butuh kerja keras dan ketrampilan untuk membuat semua penghuni rumah merasa nyaman untuk tinggal. Satu hal yang utama adalah kemampuan memberi arah dan tujuan, dalam hal ini kepemimpinan bagi rumah yang bernama Indonesia ini. Hal ini sangat tidak terlihat dalam dua tahun terakhir ini. Lack of leadership adalah persoalan mendasar SBY. Bisa jadi ini karena rivalitasnya dengan JK atau karena keadaan yang memang sangat sulit. Tetapi ini bukan alasan yang ingin didengar oleh publik sebab SBY sendiri yang berjanji dalam kampanyenya bahwa dia mampu merubah keadaan. Semua tahu bahwa keadaan tidak mudah tetapi menyalahkan keadaan bukanlah lagu yang ingin didengar publik yang dulu mendukungnya.
Masalah SBY yang lain adalah kepeduliannya yang berlebihan terhadap citra itu sendiri. Terlihat betul bagaimana dia menikmati perhatian media maupun "reality show" yang diciptakannya sendiri. Citra dibangun berdasarkan kompetensi tertentu dan merupakan resultan dari berbagai tindakan sebelumnya. Berbagai tindakan, ucapan dan keputusan yang dilahirkan selama dua tahun terakhir ini jelas bertentangan dengan citra sebelumnya maupun citra yang ingin dibentuknya di benak pemilih untuk pilpres selanjutnya. Citra yang tidak dibangun berdasarkan kompetensi dan realitas saja tidak akan bertahan lama dan akan segera pudar. Tidak cukup bagi SBY untuk sekedar beretorika atau media dan image conscious saja, dia harus berbicara dan bertindak menurut citra yang sudah dibentuknya.
Jika situasi yang ada sekarang ini terus berlanjut bisa dikatakan bahwa SBY akan segera kehilangan modal politik terbesarnya, tak lain yaitu popularitas. Meskipun dia pernah berteriak: I don't care about my popularity, saya percaya di lubuk hatinya dia sadar penuh bahwa itulah kekuatan terbesarnya. Jika I don't care about my popularity ini diteruskan dengan ''but I do care about my people" dan bertindak atas kecintaannya terhadap rakyat, maka dia tidak perlu takut kehilangan popularitas.
SBY sebaiknya belajar dari para pendahulunya, mulai dari Soeharto hingga Megawati. Belajar disini artinya menyadari bahwa pemimpin yang kehilangan popularitasnya dapat kehilangan kekuasaanya dengan cara menyakitkan. Apakah itu lewat huru hara maupun lewat penghakiman pemilih di bilik suara dalam pemilihan umum. Hal ini akan terjadi jika seorang pemimpin gagal atau dipersepsikan gagal melakukan apa yang terbaik bagi rakyatnya.
Dalam politik, citra haruslah diikuti dengan tindakan yang membuat citra itu relevan. Apa yang dulakukan adalah apa yang dikatakan. Citra yang semata-mata untuk popularitas akan segera kehilangan legitimasinya dalam bentuk dukungan publik. Dan jika ini terjadi pada saat pemilu maka anada akan kehilangan suara. Suara yang dibutuhkan untuk mendapatkan kekuasaan guna melakukan perubahan atau memperbaikin negeri ini.




























