Sudah jauh aku berjalan........ dalam sunyi, murung, cemas dan beku,
Dalam pendar-pendar cahaya yang samar dan menyesatkan.
Tiga purnama aku akan pulang,
Kembali kepelukan istriku tercinta ................. sahabat dan kekasihku, Ida!
Telaga jernih tempatku berenang dalam pusaran cinta dan kehidupan,
Tempat aku merasakan sejuknya sengatan mentari...........
Kembali aku dalam dekapan anak-anakku terkasih, eRland dan Alvaro.
Mereka pencapaian terbesar dalam hidupku, alasan bagi keberadaanku.
Dalam tiap tarikan nafasku dan dalam tiap butir darah yang dipompa keluar jantungku,
Sosok mereka bertiga, bau keringat, harum nafas dan lembut rambut berubah menjadi energi bagi jiwaku yang penat
Aaahhh, betapa aku merindu istriku! Betapa besar artinya bagi diriku!
Sendirian, dia berjuang mengatasi semua tantangan kehidupan,
Bertarung dalam ganas dan angkuhnya peradaban.
Merawat, membesarkan dan menjaga buah cinta kami......sendiri!
Meski aku cuma sejauh tombol telepon, dan sedekat hentakan keyboard........
Tak banyak yang bisa kulakukan untuk membantunya, menjadikannya mudah.
Hanya semangat dan doa panjang yang bisa kuberikan untuknya.......
Di tiap keheningan malam yang menyesakkan rongga dadaku
Aahhh, Betapa seorang lelaki, seorang suami, seorang ayah..........
tak mungkin bisa bertahan tanpa keteguhan dan kasih istrinya,
Kala jauh, kala tak berdaya!
Kekasih, betapa aku hanya mampu bersyukur..........meski didera rasa bersalah,
atas semua pengorbananmu ............................untukku dan anak-anak kita.
Kelak aku akan membayarnya cintaku,
untuk setiap bulir air mata yang pernah menetes di pipimu!
Aahhhh, betapa aku rindu si sulung,
eRland, si abang....jagoan kecil yang tangguh
Pertanyaan-pertanyaannya selalu merontokkan syaraf pertahanan jiwaku
Koq ditinggal eyan-nya papa? Salah apa abang papa?
Mengapa pergi naik boeing itu dan tak pulang lagi papa?
Abang boleh ikut papa?
Kubenturkan kepala ke dinding tiap kali pertanyaan itu terlontar,
Seperti sebuah ritual buat dirinya, menghamburkan peluru yang begitu mengoyak hati
Betapa tegarnya dia, jika mamanya menangis......dia berkata,
Jangan menangis mamaku, Jangan sedih, Papa pasti pulang, natal nanti...!!!!
Betapa dia marah, tiap kali orang mengasihani mamanya atau bahkan dirinya.
Anak ku, kau mahkota di kepalaku.
Kelak, aku akan membayarnya sayangku, setiap detik yang hilang
Ahhh, betapa aku kangen si bungsu,
Alvaro, si penakluk berhati lembut
Menangis aku mendengar, betapa langkah pertama mu begitu menakjubkan
Tanpa takut, penuh percaya diri dan senyum kemenangan mengembang di bibir mungilmu
Kau tahu kau harus berdiri, berjalan dan segera berlari
Cukup sudah buatmu ketergantungan itu,
seperti papa...........kau tahu kapan berkata sudah, cukup!
seperti mama...........kau tahu bila waktunya menantang kehidupan
Kau tahu betapa lelah mama mu,
Kau sadar betapa sayang dan peduli abang mu, meskipun suka iseng dan mengganggu
Aahhh, kau magnet bagi semua....dan kau menikmatinya tanpa rasa angkuh
Anak ku, kau peneguh jiwaku
Pada saatnya nanti, aku akan membayar semua langkah kecil ajaibmu yang terlewatkan dari ku
Ida, istriku....telaga jiwaku, kehormatanku
eRland, jagoanku......mahkota di kepalaku, penjaga hatiku
Alvaro, kebangganku.....peneguh hidupku, penerang sukmaku
Papa akan pulang, segera.......seminggu sebelum purnama ketiga
Pulang...............
Kembali pada harum tubuh tubuh kalian yang selalu memompa semangatku,
Kembali pada desah nafas kalian yang menentramkan risau hatiku,
Kembali pada hangatnya senyum kalian yang memuaskan dahagaku,
Kembali pada teriakan, tangis, marah, rengekan, tawa dan lembut rambut kalian
Kembali pada semua hal luar biasa yang kalian hadirkan dalam tiap detik hidupku!
Papa akan pulang, dengan cinta bergelora dihati dan air mata di pelupuk mata
Air mata kasih, cinta dan rasa syukur
Tuhan, biarkan cinta kami abadi!
Biarlah cinta selamanya di hati,
Amor aternitas corde.....................
Dalam himpitan essay dan assignment, London, 10 Desember 2005