Friday, December 16, 2005

KRITIK

Hari-hari belakangan ini kita dikejutkan oleh perangai RI 1 dan RI 2, yang ternyata alergi terhadap kritik. Sikap ini adalah mentalitas orde baru yang berakar dari tradisi feodalisme. Presiden dan Wapres kita ini jelas produk anyar dari kecanggihan komunikasi (kampanye) politik. Tetapi sikap dasar, mentalitasnya ternyata masih berbau zaman mataram. Kegusaran SBY atas kritik yang diterimanya dan kemarahan JK atas puisi dan pemberitaan media adalah pertanda betapa mereka bukan bagian dari perubahan di republik ini.

Kapan terakhir anda mendengar; kritik harus konstruktif, objektif, memberikan solusi, disampaikan secara sopan...? Tentu anda masih ingat, itu kosa kata khas jaman despot Soeharto. Jaman ABS, era jilat menjilat dan penuh kebusukan. Apakah ini yang mau dipelihara oleh SBY dan JK?

Apakah mereka lupa bahwa peradaban yang maju dibangun atas pertentangan dan kritik terhadap gagasan. Baik itu dalam dunia akademis, ekonomi, politik maupun kebudayaan. Negeri mana yang mengharamkan kritik? Yang pasti negara totaliter, baik atas dasar ideologi/agama atau tirani. Lihat dimana posisi negara-negara model begini dalam peradaban dunia sekarang.

Kritik adalah energi pendorong yang harus dikembangkan, bukan dibungkam. Dengan menunjukkan kegusaran dan kemarahan terhadap kritik dari luar, SBY dan JK sebenarnya sedang membunuh kreativitas dan dialektika serta keberanian melontarkan gagasan di dalam pemerintahan. Pemerintah yang anti kritik dengan demikian adalah anti kreativitas dan pembaharuan, yang pasti akan mengalami pembusukan. Cepat atau lambat.......ini hanya soal waktu. Dengan demikian sebenarnya SBY dan JK sedang membawa kita menari poco-poso. Maju satu langkah lalu mundur dua langkah kemudian berputar-putar. Kelihatannya kita akan kehilangan 5 tahun lagi, negeri ini ternyata belum berubah. Kasihan!

Posted by erland at 12:04:18 | Permanent Link | Comments (0) |

TIM KAMPANYE vs IDEOLOGI

Beberapa waktu lalu, Jaya Suprana menghadiahi sebuah rekor MRI kepada LSI dan Denny JA. Sebuah rekor, karena Denny cs menjadi konsultan politik terbesar di Indonesia untuk Pilkada tahun ini. Menarik! Pertama, Ini sebuah rekor yang belum ada sebelumnya, kategori baru. Kedua, betapa politik telah menjadi pasar bisnis besar. Ketiga, Denny cs melayani klien dari berbagai latar belakang, dalam hal partai dan ideologi.

 Mari kita lihat dan diskusikan satu per-satu!

Pertama, ini jelas kategori baru. Konsultan (kampanye) politik jelas merupakan trend baru di Indonesia. Ini adalah konswekensi dari amerikanisasi politik di Indonesia belakangan ini. Apa itu amerikanisasi (kampanye politik?). Ia adalah kecenderungan profesionalisasi politik dengan memanfaatkan metode dan kepakaran di bidang marketing (branding, FGD, packaging, dsb), komunikasi, polling/riset dan media management. Amerikanisasi, secara sinis adalah upaya menjual partai, pesan atau kandidat politik seperti perusahaan menjual deterjen atau soft drink dengan memanfaatkan media (mediated politics). Nah, pertanyaannya mungkin adalah, apakah ini baik atau buruk? Kita bersama-sama tentu harus melihat kemana semua ini mengarah. Terlalu dini untuk menyimpulkan. Sejauh ini, proyek profesionalisasi politik ini banyak mendapat kritik di Amerika sendiri, maupun di Inggris yang banyak mengadopsi praktek ini. Tidak di semua negara amerikanisasi politik ini dapat berhasil, contohnya di Taiwan kemarin. Amerikanisasi politik hanya dapat terjadi jika memiliki basis material yang cukup. Pertama, tersedianya keahlian dan para ahli yang terkait. Kedua, media massa (terutama TV)  yang liberal dan kapitalistik. Ketiga, menurunnya identifier/kesetiaan pemilih terhadap parpol maupun ideologinya, yang seringkali juga ditandai dengan bertambahnya jumlah kelas menengah. Ke-empat, parpol semakin tidak berbeda satu sama lainnya (cross ideology). Apakah semua fakor pendukung ini sudah ada di Indonesia? Silahkan anda jawab sendiri.

Kedua, politik memang sudah menjadi sebuah komoditi pasar bebas di era reformasi ini. Parpol pun sudah mulai memperlakukan pemilih seperti konsumen di pasar yang bebas. Lihat saja praktek jual beli suara, krisis representasi wakil rakyat dan rendahnya interaksi rakyat dengan wakilnya. Perhatikan apa yang mereka "jual" dalam pemilu kemarin, terlebih pada pilkada yang baru lalu. Politik kita adalah sebuah pasar transaksi kekuasaan antar elit politik dan ekonomi dengan rakyat sebagai penonton. Persis seperti setting Indonesian Idol. Suka atau tidak, politik kita semakin jauh dari transaksi gagasan. Tidak seperti politik pasca proklamasi yang sarat dengan ideologi.

Ketiga, fakta bahwa Denny cs melayani klien dari berbagai latar belakang partai menunjukkan bahwa konsultan politik adalah pelayanan jasa yang bebas nilai (dalam arti ideologi). Bukan merupakan implikasi dari spektrum politik. Di sini terlihat jelas pragmatisme parpol dan elitnya. Apakah ini buruk?. Yang penting adalah menang, yang penting kekuasaan. Tapi, dalam politik memang selalu soal menang atau kalah, bukan begitu? Bagaimana menurut anda?

Menarik untuk melihat dan belajar dari pengalaman Denny cs dengan LSI-nya. Paling tidak kita bisa tahu kondisi mutakhir dan trend politik kita ke depan. Anda tertarik? Kenapa tidak, pasarnya luas!

Posted by erland at 08:05:35 | Permanent Link | Comments (1) |

Saturday, December 10, 2005

Amor Aternitas Corde

Sudah jauh aku berjalan........ dalam sunyi, murung, cemas dan beku,

Dalam pendar-pendar cahaya yang samar dan menyesatkan.

Tiga purnama aku akan pulang,

Kembali kepelukan istriku tercinta ................. sahabat dan kekasihku, Ida!

Telaga jernih tempatku berenang dalam pusaran cinta dan kehidupan,

Tempat aku merasakan sejuknya sengatan mentari...........

Kembali aku dalam dekapan anak-anakku terkasih, eRland dan Alvaro.

Mereka pencapaian terbesar dalam hidupku, alasan bagi keberadaanku.

Dalam tiap tarikan nafasku dan dalam tiap butir darah yang dipompa keluar jantungku,

Sosok mereka bertiga, bau keringat, harum nafas dan lembut rambut berubah menjadi energi bagi jiwaku yang penat

Aaahhh, betapa aku merindu istriku! Betapa besar artinya bagi diriku!

Sendirian, dia berjuang mengatasi semua tantangan kehidupan,

Bertarung dalam ganas dan angkuhnya peradaban.

Merawat, membesarkan dan menjaga buah cinta kami......sendiri!

Meski aku cuma sejauh tombol  telepon, dan sedekat hentakan keyboard........

Tak banyak yang bisa kulakukan untuk membantunya, menjadikannya mudah.

Hanya semangat dan doa panjang yang bisa kuberikan untuknya.......

Di tiap keheningan malam yang menyesakkan rongga dadaku

Aahhh, Betapa seorang lelaki, seorang suami, seorang ayah..........

tak mungkin bisa bertahan tanpa keteguhan dan kasih istrinya,

Kala jauh, kala tak berdaya!

Kekasih, betapa aku hanya mampu bersyukur..........meski didera rasa bersalah,

atas semua pengorbananmu ............................untukku dan anak-anak kita.

Kelak aku akan membayarnya cintaku,

untuk setiap bulir air mata yang pernah menetes di pipimu!

Aahhhh, betapa aku rindu si sulung,

eRland, si abang....jagoan kecil yang tangguh

Pertanyaan-pertanyaannya selalu merontokkan syaraf pertahanan jiwaku

Koq ditinggal eyan-nya papa?  Salah apa abang papa?

Mengapa pergi naik boeing itu dan tak pulang lagi papa?

Abang boleh ikut papa?

Kubenturkan kepala ke dinding tiap kali pertanyaan itu terlontar,

Seperti sebuah ritual buat dirinya, menghamburkan peluru yang begitu mengoyak hati

Betapa tegarnya dia, jika mamanya menangis......dia berkata,

Jangan menangis mamaku, Jangan sedih, Papa pasti pulang, natal nanti...!!!!

Betapa dia marah, tiap kali orang mengasihani mamanya atau bahkan dirinya.

Anak ku, kau mahkota di kepalaku.

Kelak, aku akan membayarnya sayangku, setiap detik yang hilang

Ahhh, betapa aku kangen si bungsu,

Alvaro, si penakluk berhati lembut

Menangis aku mendengar, betapa langkah pertama mu begitu menakjubkan

Tanpa takut, penuh percaya diri dan senyum kemenangan mengembang di bibir mungilmu

Kau tahu kau harus berdiri, berjalan dan segera berlari

Cukup sudah buatmu ketergantungan itu,

seperti papa...........kau tahu kapan berkata sudah, cukup!

seperti mama...........kau tahu bila waktunya menantang kehidupan

Kau tahu betapa lelah mama mu,

Kau sadar betapa sayang dan peduli abang mu, meskipun suka iseng dan mengganggu

Aahhh, kau magnet bagi semua....dan kau menikmatinya tanpa rasa angkuh

Anak ku, kau peneguh jiwaku

Pada saatnya nanti, aku akan membayar semua langkah kecil ajaibmu yang terlewatkan dari ku

Ida, istriku....telaga jiwaku, kehormatanku

eRland, jagoanku......mahkota di kepalaku, penjaga hatiku

Alvaro, kebangganku.....peneguh hidupku, penerang sukmaku

Papa akan pulang, segera.......seminggu sebelum purnama ketiga

Pulang...............

Kembali pada harum tubuh tubuh kalian yang selalu memompa semangatku,

Kembali pada desah nafas kalian yang menentramkan risau hatiku,

Kembali pada hangatnya senyum kalian yang memuaskan dahagaku,

Kembali pada teriakan, tangis, marah, rengekan, tawa dan lembut rambut kalian

Kembali pada semua hal luar biasa yang kalian hadirkan dalam tiap detik hidupku!

Papa akan pulang, dengan cinta bergelora dihati dan air mata di pelupuk mata

Air mata kasih, cinta dan rasa syukur

Tuhan, biarkan cinta kami abadi!

Biarlah cinta selamanya di hati,

Amor aternitas corde.....................

Dalam himpitan essay dan assignment, London, 10 Desember 2005

Posted by erland at 03:37:58 | Permanent Link | Comments (7) |

Friday, December 09, 2005

LET's GET REAL!

Ternyata banyak juga orang yang gelisah dan murung dengan situasi pergerakan ornop di Indonesia. Ornop, dan social movement menurut sebagian mereka, sedang dipersimpangan jalan menuju sebuah ekuilibrium baru. Sebuah keseimbangan baru yang  akan berdampak pada redefinisi dan revitalisasi peran ornop dalam perubahan sosial politik di Indonesia.

Dalam banyak hal saya sepakat. Ornop sedang dalam posisi stagnan, kalau tidak bisa dibilang dekaden. Banyak yang berpendapat ini sebuah proses menuju keseimbangan baru. Sementara saya berpendapat, ornop tidak lagi relevan  sebagai alat perjuangan perubahan sosial secara mendasar dan efektif. Bagi banyak orang, ornop harus melakukan redefinisi sementara saya berpendapat transformasi yang harus dilakukan. Sebagian besar ornop akan tetap dengan keadaannya; donor dan project oriented, issue heavy, pressure group dan romantis. Tetapi sebagian lagi, yang progressif harus merubah diri agar relevan dengan situasi yang berubah.

Kita tahu, di Indonesia, ornop adalah produk dari "abnormalitas politik" masa Orde Baru. Dia lahir sebagai alternatif ketika saluran politik tersumbat dan partisipasi dibatasi. Politik massa mengambang yang menjauhkan massa dari proses politik, membuat ornop dan aktivitasnya menjadi energi pendorong perubahan. Ornop menjadi alat kapitalisasi sosial yang non-politis (terminologi yang sangat sah diperdebatkan).  Pada masa itulah ornop menemukan kejayaannya. Ketika Soeharto tumbang, saluran dan partisipasi politik terbuka luas. Arena bermain, kultur dan pendekatan pun tentunya menjadi berbeda. Tetapi ornop tidak mau berubah, Mereka mapan, stagnan dan terlanjut menikmati dunianya yang eksklusif. Padahal tantangan sudah sangat berbeda, demikian juga kebutuhan.

Ornop yang miskin kreativitas, megalomania, selalu negatif  dan naif terhadap realitas "di luar dunia eksklusifnya"----yaitu dunia gagasan, dunia ide dan dunia slogan. Kesadaran ruangnya sangat terbatas, sirkulasi elitnya apalagi! Salah satu faktor yang mempengaruhi menurut  saya, adalah rendahnya kecerdasan kontekstual dikalangan ornop.

Apa itu kecerdasan kontekstual? Per-definisi, bagi saya, kecerdasan kontekstual adalah kemampuan mencerap, mengolah dan merespon dunia sekitar secara terus menerus, menggunakan kesadaran historis, kultural dan intelegensia. Singkat kata, perkawinan  social capital dengan intelectual capital. Kecerdasan ini menurut saya, adalah produk dari kesadaran reflektif yang tajam dan terus menerus atas pergumulan terhadap realitas kemarin, hari ini dan kemungkinan di masa depan. Orang-orang dengan kecerdasan ini selalu melakukan adjusment terhadap diri, komunitas maupun organisasinya. Bagi individu ia memungkinkan pengambilan keputusan yang tepat, bagi society ia memampukan reproduksi terhadap shared values dan objectives, sedangkan bagi organisasi ia memungkinkan tumbuhnya kreatitivitas dan strategic approaches.

Kalau begitu, harapan apa yang masih tersisa di pundak ornop? Apa yang harus dilakukan? Ini sebuah benang kusut. Tetapi yang paling mendasar menurut saya adalah mengubah pendekatan non-partisan dan apolitis. Ornop harus mulai melakukan kapitalisasi terhadap energi yang mereka keluarkan selama ini. Sikap jijik terhadap politik harus disingkirkan. Serahkan dunia gagasan kepada mahasiswa atau orang-orang kampus. LET"s GET REAL! Mari memobilisasi energi publik menjadi kekuatan perubahan. Mari menjahit semua perca yang berserakan selama bertahun-tahun ini. Lupakan donor, lupakan isu titipan, lupakan popularitas, mari menjahit narasi baru bagi Indonesia. Mungkin kita belum tentu berhasil, but it's better to die trying!!!!

Posted by erland at 11:40:47 | Permanent Link | Comments (0) |

Thursday, December 08, 2005

ORNOP dan Perubahan Sosial

Dani, salah seorang sahabatku (juga bisa disebut mentor), adalah pribadi kreatif yang terus menerus gelisah oleh zaman. Orangnya hangat  tetapi aku menangkap kesan kesepian yang serius di lubuk hatinya. Bersama sahabat baiknya, Budshi, dan beberapa orang lain mereka mendirikan INSPIRIT Innovative Circle (Inc). Sebuah organisasi hybrid, perkawinan antara profit dan non-profit. Mereka banyak melakukan program pelatihan, fasilitasi dan jasa2 lainnya. Klien mereka luas, mulai LSM (lokal higga internasional), departemen pemerintah bahkan mungkin juga perusahaan privat.

Beberapa hari lalu, di blog pribadinya, dalam sebuah posting dia menulis tentang betapa mandulnya dunia Ornop saat ini. Bersama dengan itu dia menyampaikan kekagumannya terhadap tokoh2 pergerakan politik Indonesia tempo dulu. Orang-orang yang sudah lama menjadi inspirasi bagi ku. Komentarnya tentang kedua hal itu semakin menegaskan thesis ku tentang perlunya transformasi/ekspansi ornop menjadi gerakan politik.

Ornop memang tidak lagi memadai sebagai alat melakukan perubahan (sosial) yang signifikan. Dalam banyak hal sudah kehilangan momentum dan relevansinya. Di dunia yang semakin serba terbuka dengan perubahan2 sosial yang cepat dan dinamis, ornop semakin tertinggal dan gagap. Saingannya juga semakin banyak, parpol, advokat, social scientist, local leaders, PR atau Communication Dept perusahaan, dan sebagainya. Wacana, jargon dan skillsnya juga cenderung stagnan. Ornop semakin teredusir jadi kontraktor, broker, kartel dan selebritis. Setelah umur 40 tahun,  para aktivis biasanya bingung dan dekaden. Sebagian tersesat di arena politik (kotor), sebagian tetap dan akhirnya jadi diktator atau kontra produktif bagi lingkungannya. Ada pula yang menghilang dan kahirnya menjadi tidak relevan. Padahal begitu banyak energi dan pengalaman yang dimiliki.

Gerakan ornop sukar melahirkan generasi gemilang, yang mampu menulis sejarah. Sebab dunia ornop adalah dunia yang sempit dan eksklusif dengan corak pandang yg nyaris sempit seragam. Bukan lingkungan yang terlalu ramah untuk perbedaan atau pembaruan. Rivalitas individu dan organisasi, baik untuk donor, dampingan maupun popularitas seringkali jadi energi negatif. Ornop isu dan ornop kontraktor berdampak buruk bagi perubahan. Mereka membajak perubahan dan menjadikannya pabrik reproduksi komoditi2 yang tak berdampak besar bagi perubahan.

Gerakan ornop lebih mungkin melahirkan generasi romantis. Generasi yang ambigu dan tanpa kepastian. Hidup di dua dunia, yang ideal dan yang nyata. Antara slogan dan kerja nyata. Ngomong pro-rakyat/sosialis tapi hidup dengan lagu dan lagak kapitalis. Bergaya seperti profesional tapi kualitas kerja kelas amatir. Maaf kalau terlalu pesimis dan cenderung negatif. Tapi bagi saya ini semua fakta yang tak terbantah. Meskipun kita tidak bisa menafikan ada banyak ornop atau aktifisnya yang layak mendapat salut karena kerja nyata, konsistensi dan keberpihakan mereka. Tapi umumnya, suka atau tidak, para elit ornop bukanlah tipe-tipe orang yang willing atau mampu melakukan perubahan di dalam komunitasnya, apalagi di tengah masyarakat. Dalam arti punya kapasitas dan kompetensi yang memadai, atau lebih jauh lagi melakukan bunuh diri kelas!.

Sekaranglah saatnya ornop berubah atau akan semakin irrelevan dalam social movement / transformation. Saatnya juga aktivis ornop yang sudah matang untuk merambah ke domain lain. Politik! Kenapa? Sebab disanalah kebijakan publik dibuat. Di domain itu pula social capital diperebutkan, karenanya, disanalah energi perubahan itu berada. Bahwa sekarang politik begitu kotor memang tidak bisa dibantah. Tapi itu karena politik kita baru kembali ke sekolah setelah drop out selama 32 tahun. Itu juga karena orang-orang baik dan cerdas terus membusuk di luar domain politik! Ini yang harus diubah, domain politik harus dirambah dan direbut. Tidak bisa lagi kita membiarkan gerombolan maling dan maling2 baru untuk terus merampok kecerdasan dan kesejahteraan rakyat. Kecenderungan phobia dan alergi terhadap politik di kalangan ornop sudah saatnya diobati. Jika tidak, selamanya ornop hanya akan melakukan "onani sosial". Baik sendiri maupun berjamaah!

Apa yang Dani dan kawan2 lakukan sudah tepat. Mereka terus mencari dan terus mendukung generasi yang devoted terhadap perubahan. Mengumpulkan, mengolah dan mendistribusikan knowledge yang mereka dapatkan dari bermacam orang, dengan latar belakang, budaya dan intelektual kapital yang berbeda. Meskipun tetap menjadi pertanyaan, bagaimana mereka menjahitnya menjadi sebuah energi yang mendorong perubahan? Bagaimana orang-orang, lembaga, aktivitas dan intelectual capital itu dimobilisasi dan dikelola seperti mengelola orkestra. Tanpa pengelolaan yang benar, saya khawatir ini lagi-lagi jadi kerjaan buang2 umur. Tidak ada perubahan pernah terjadi tanpa jejaring sebab perubahan sosial tidak pernah terjadi secara kebetulan. Ia memerlukan momentum (baik yang diciptakan maupun yang dimanfaatkan), dan energi yang terkelola dengan baik.

Orang-orang yang melakukan perubahan di zamannya adalah orang-orang yang ditemukan oleh sang waktu. Mereka yang menulis sejarah adalah mereka yang mampu keluar dari lingkungan yang stagnan dan dekaden. Begitulah sejarah ditulis. Bakarlah bara otaknya tetapi juga jangan lupa bakar juga bara hatinya. Dalam hal ini motivasinya.

Posted by erland at 12:12:04 | Permanent Link | Comments (1) |

Wednesday, December 07, 2005

Reshuffle Kabinet

Setelah mendapatkan tekanan terus menerus SBY akhirnya jadi juga merombak Kabinet Indonesia Bersatu. Pasti tidak mudah bagi SBY, tidak saja karena pribadinya yang  peragu tetapi juga kenyataan bahwa modal politik riil-nya cukup rendah. Menghadapi intrik JK dengan Golkarnya, parpol pendukung, oposisi, tekanan publik dan media pada saat bersamaan tentunya bukan soal mudah. Menarik ketika akhirnya dia mampu "keluar" dengan keputusan yang tidak terlalu menimbulkan badai politik. Momentum yang diambil oleh SBY adalah hasil pergumulan dan "uji publik" yang cukup hati-hati. Tetapi kelihatan sekali tendensi "menyenangkan semua pihak" sebagai karakter dasar SBY.

Apa yang kita bisa pelajari dari peristiwa reshuffle kabinet kali ini?

Pertama, menurut saya SBY gagal mengkapitalisasi desakan perombakan kabinet sebagai peluang memperkuat posisi politiknya. Cemohan tentang sikap peragu sang Presiden terlanjur diekspos dan direkam publik. Suatu ketika ini bisa jadi amunisi lawan politiknya, apalagi bila kemudian kabinet barunya pun gagal melakukan perbaikan. Sejak awal seharusnya SBY mengambil bola panas ini dan mengolahnya menjadi "miliknya", bukan milik orang lain. Komunikasi politik yang seharusnya dilakukan SBY adalah: I know what I'm doing and I will get things better soon. Jika ini bentuk komunikasinya, maka diskursus yang muncul adalah tentang kebijakan apa yang harus diambil. Bukan siapa yang harus diganti dan siapa penggantinya. Jika ini yang terjadi, dia bisa mendapatkan masukan dan dukungan publik. Tetapi faktanya sang Presiden mengkomunikasikan ke-ragu2 an dan kehati-hatian yang berlebihan. Isu resuffle terlanjur menjadi milik political competitors dan kelompok kritis lainnya. Sikap terlalu berhati2 bisa menunjukkan lemahnya posisi politik presiden. Juga menunjukkan bahwa dia bukan pengambil keputusan/yang baik, dalam arti bukan tipe yang berani mengambil resiko. Kelihatannya dia menunggu respon dari mana-mana, baru berani mengambil keputusan. Jika demikian, ini adalah tanda bahwa dia memang lebih peduli tentang popularitas/citranya dibanding mengambil keputusan sulit secara tegas. 

Kedua, SBY gagal menggunakan proses perombakan kabinetnya sebagai sarana yang memberikan "ketenangan" dan trust bagi publik. Yang muncul akhirnya adalah bisik-bisik dan rumor. Ini tentu tidak sehat karena orang2 disekeliingnya jadi sibuk bermanuver dan energi produktif terbuang untuk intrik. Dukungan publik tidak didapat, lawan di atas angin dan publik lelah berharap. Ketika akhirnya tindakan diambil, sambutan publik keburu dingin dan kurang antusias. Seharusnya SBY mendapatkan kredit point untuk proses ini sebab perombakan kabinet adalah sesuatu yang tidak lumrah dalam politik Indonesia.

Ketiga, pengumuman hasil perombakan  dapat  memberikan resonansi negatif. Menurut saya seharusnya dilakukan di Istana didampingi Wapres, yang sudah terlanjur di citrakan sebagai duri dalam daging bagi SBY. Dengan mengumumkan di Istana bersama JK maka akan menunjukkan kepada publik dan lawan politik bahwa SBY is fully  in charge. Fakta bahwa pengumuman dilakukan di Yogya tanpa Wapres bisa bermakna ganda. Pertama, SBY sebenarnya rikuh kepada JK. Kedua, memang benar he is not really in charge. Jadi bisa saja Yogya dipilih karena faktor JK. Jika bukan ini masalahnya, mengapa pula harus sibuk membicarakan al ini? Dalam politik (Indonesia), publik sudah terbiasa menyimpulkan secara terbalik. Hal yang dibantah, biasanya adalah hal yang benar. Ini bukan isu untuk publik karena belum tentu publik memerlukannya. Sementara untuk sekutu dan lawan politiknya, penjelasan ini juga redundant. Bagi kedua kelompok in alarm ketidak beresan sudah terlanjur menyala.

Kelihatannya, SBY juga sedang memainkan kartu populisnya. Mengumumkan perombakan di Yoyga bisa berarti meminta dukungan publik dan terkesan meninggalkan "pusat kekuasaan". Yogya adalah pusat kebudayaan Jawa dan dalam sejarah juga pernah jadi ibukota RI. Apapun alasannya, ini bukan pilihan yang baik. Lawan jadi tahu ada masalah dan kawan tahu bahwa dia menghindar. Mungkinkah begitu kejadiannya? Wallahualam ......

Posted by erland at 01:47:42 | Permanent Link | Comments (2) |

Monday, December 05, 2005

Komunikasi as basic need

Tiga bulan sudah merantau di negeri orang untuk menimba ilmu. Jauh dari "kesadaran ruang", bau debu tanah, sengatan matahari dan kemacetan. Jauh dari istri tercinta dan anak-anak terkasih, eRland dan aLvaro. Hidup seperti dalam perangkap, sepi dan gelisah tiada akhir.  Kadang timbul keraguan, will I survive this, alone? Cuma satu penghalang agar tidak mengepak koper dan kembali. Kembali pada semua yang "biasa" dan terbiasa. Sebagai orang batak "asli", pulang dari rantau sebelum mencapai tujuan pasti dianggap sampah. Tidak punya hak bicara dan tidak punya kehormatan. Pecundang.....seumur hidup, betapa mengerikan. Lebih mengerikan dari rasa panik dan beku karena sepi dan rindu.

Entah semua orang mengalaminya atau tidak. Tapi ini sebentuk pengalaman baru yang belum pernah muncul sebelumnya. Syukurlah sekarang semua semakin membaik. Dingin dan muramnya langit tak terlalu mengganggu lagi. Sepi di perpustakaan kala malam dan acuhnya orang sudah jadi kebiasaan.

Telpon membantu bahkan sangat membantu meskipun cukup menggerogoti kantong. Tapi skype lebih membantu lagi. Saat jauh dan rindu orang-orang terkasih, skype ibarat dewa penolong. Jembatan melintasi dahaga dan muram. Tak terbayang betapa buruknya kalau tidak ada program ini. Rumah seolah sepelemparan senyum jaraknya. Mendengar anak-anak bermain dan berteriak seperti layaknya sedang di ruang kerja saja. Ibarat kata iklan, begitu dekat, begitu menyentuh.

Komunikasi adalah soal primer dalam kehidupan global saat ini. Tanpa kemajuan dibidang komunikasi sulit dibayangkan gerak langkah dan kecepatan informasi di tahap yang ada sekarang. Pertanyaannya, benarkah semua strategi dan pendekatan kita, baik individu atau  organisasi sudah punya kesadaran "komunikatif? Seringkali pendekatan dan strategi gagal karena pola, isi dan medium komunikasinya tidak tepat. Seringkali pula komunikasi (eksternal) gagal mencapai tujuan karena komunikasi internalnya (track record) bertolak belakang. Apa pula bedanya komunikasi dengan spinning, terutama dalam politik? Komunikasi hanya bisa berhasil bila bersifat honest, on-going dan bersifat two-way. Bukan slogan, mendikte dan sekali tembak.

Posted by erland at 00:25:17 | Permanent Link | Comments (2) |

Friday, December 02, 2005

Campaign and Campaigners

Campaign adalah idiom yang rancu, dalam arti multi definisi. Militer memakainya, swasta juga lalu diikuti oleh pemerintah dan LSM. Per-definisi, bisa dikatakan sebagai usaha untuk memenangkan gagasan atau mengubah kebijakan. Dalam konteks barat, campaigners adalah orang-orang di luar decision making process. Campaign seringkali merupakan confrontation point of views.

Mungkin bisa dikatakan bahwa kampanye militer adalah yang paling efektif. Ada target atau sasaran yang jelas dan ukurannya juga jelas: Menang atau kalah atau Hidup-Mati. Organisasinya juga apik dengan hirarki yang rapi, jalur komando dan komunikasi yang solid.

Bagaimana dengan kampanye politik dan kelompok sipil?

Nah, di sini agak berbeda. Kampanye politik sekarang sudah mengadopsi prinsip-prinsip marketing dan image creation. Ada soal branding dan komunikasi. Kampanye politik adalah soal memenangkan hati dan pikiran orang dengan isi dan medium komunikasi yang tepat. Tidak heran dunia politik mau tidak mau akan sering memanfaatkan FGD, polling maupun riset-riset lainnya. Tanpa masukan dari riset kampanye parpol tidak akan efektif. Taruhannya juga jelas: Menang atau Kalah dalam Pemilu.

Kalau Ornop lain lagi. Di Indonesia, ornop jarang mampu melakukan kampanye yang efektif atau memenangkan "pertarungan". Sedikit sekali kampanye ornop yang mampu me-mobilisasi dukungan publik secara memadai. Sedikit pula yang mampu menerobos ruang-ruang pengambil keputusan apalagi sampai  menimbulkan pengaruh. Jarang ada lobby yang intensif apalagi mampu "menyiasati" pertarungan di lapangan politik. Kampanye dan campaigners di Indonesia seringkali bertindak seperti selebritis. Target dan outcome-nya seringkali cuma publisitas. Dunia politik di anggap kotor. Padahal, dengan tidak mengerti atau mengalami betapa kotornya politik, bagaimana mungkin bisa mengerti arena? Apalagi mencapai tujuan? Satu lagi,  kampanye ornop seringkali bukan taruhan Hidup-Mati. It's just the way the are. Interest group atau juga seringkali cuma pressure group.

Posted by erland at 21:18:51 | Permanent Link | Comments (1) |