Amerikanisasi Pemilu di Indonesia
Pemilu 2004 ditandai dengan proses Amerikanisasi kampanye politik Indonesia. Dalam hal ini adalah pelibatan profesional di bidang marketing, komunikasi, lembaga polling dan penggunaan media terutama televisi secara besar-besaran. Ini adalah suatu metode yang memperlakukan politik (partai dan atau kandidat) sebagai sebuah produk, dengan packaging persis seperti menjual deterjen. Yang dijual adalah citra sedang pendapatan dalam bentuk suara pemilih.
Hampir semua partai (terutama yang besar) melakukannya. PKS melakukan kombinasi dengan baik hingga mendulang suara besar. Partai Demokrat adalah contoh betapa hebatnya pengaruh komunikasi lewat media. Lihat bagaimana partai tanpa asal usul maupun infrastruktur yang baik ini mampu menjulang dalam perolehan suara. Lihat bagaimana image dan brand SBY berhasil membawa dia ke kursi Presiden. PDI-P, di sisi lain, meskipun berupaya keras tetapi gagal karena image Megawati yang terlanjur tidak sesuai mood konsumen.
Apakah ini buruk? Tergantung anda. Kalau menurut anda politik harusnya lahir dari kerja keras banyak orang (partai) di lapangan dan merupakan pemimpin serta issu lahir dari debat yang rasional, maka amerikanisasi tentu bisa jadi buruk. Lihatlah SBY sekarang. Imagenya adalah pemimpin yang tegas dan berwibawa. Faktanya? Lihat saja bagaimana peragunya jendral yang satu ini.
Yang pasti, amerikanisasi menjadikan politik sebagai tontonan yang menghibur, meskipun untuk sebagian orang terasa menyesakkan. Dia lahir sebagai dampak pemikiran liberal dalam budaya kapitalisme, di mana pemilih dianggap mampu membuat pilihan rasional. Faktanya? Benarkah para pemilih memiliki rasionalitas tertentu dalam memilih secara cerdas?
Media akan selalu diuntungkan sebab mendapatkan objek berita dan tentu iklan, sebab semua politisi akan berupaya melakukan agenda setting, media management dan kalau perlu spinning. Selain media, lembaga-lembaga polling, perusahaan marketing dan iklan, perusahaan/organisasi riset, konsultan komunikasi sampai pengarah gaya akan mendapatkan keuntungan dari fenomena ini. Selamat datang bisnis baru di republik, namanya Politik Pencitraan!





