Century oh Century
Seratus hari lebih pemerintahan presiden terpilih SBY – Boed dipenuhi hiruk pikuk politik. Inilah buah dari sistem demokrasi prosedural yang menghalalkan sebgala cara untuk memenangkan kursi kekuasaan. Demokrasi adalah entitas sistem dan kultural yang harusnya mengakar jauh dalam kebudayaan komunal dan institusional Bukan sekadar adu taktik dan kekuasaan yang mengesampingkan pentingnya membangun kehidupan bernegara yang etis dan produktif.
Sudah hampir dua bulan kita disuguhi parodi dagelan Pansus Century. Selama itu pula kita semua menanggung akibatnya, karena pemerintah tidak bisa bekerja maksimal bekerja. Di sisi lain, parlemen kehilangan tenaga untuk melaksanakan mandatnya. Semua energi tersedot oleh kasus mega perampokan uang rakyat sebesar 6,7 Triliun melalui Bank Century.
Cerita Century adalah cerita gelap lorong-lorong kekuasaan yang mengira bisa melakukan segalanya untuk memenangkan pertarungan. Kasus ini adalah bukti betapa kekuasaan cenderung korup dan betapa berbahanya suatu republik yang dikuasai oleh maniak-maniak pemburu kuasa dan rente ekonomi. Nalar kita direndahkan lewat berbagai permainan politik dan komunikasi, dari statement biasa sampai ancam mengancam. Terlalu banyak sudah lembaga dan individu yang terseret-seret ke dalam pusaran persoalan century ini. Mulai dari POLRI, KPK, PPATK, BPK, politisi dan ntah siapa lagi nanti.
Cerita century adalah cerita pertaruhan demokrasi. Penguasa mempertaruhkan dan menggunakan segalanya agar bisa terlepas dari jeratan pelanggaran yang mereka ciptakan sendiri. Saya ragu bahwa mega skandal ini akan terbuka tuntas sebab pertaruhannya sangatlah besar. Kita melihat bagaimana pemerintahan SBY dan partai Demokrat begitu panik menghadaoi tekanan bertubi-tubi, susah membedakan mana yang benar dan mana yang bohong dari mereka. Tak satu kata dan perbuatan, asal ngecap dan asal ngotot. Sejauh ini, perlawanan yang diberikan Golkar dan PKS meskipun dengan agenda bargainingnya masing-masing tetaplah sebuah atraksi politik yang menarik, Konsistensi PDI Perjuangan untuk membongkar kasus ini juga layak diapresiasi.
Mari kita saksikan bagaimana ending dari ketoprak century ini, kita sudah capek lihat Presiden yang setiap hari berkeluh kesah dan curhat tanpa henti. Mungkin ada baiknya SBY menyingkir saja, kasihan, supaya bisa tenang bersama cucu di rumah. Tapi sebelum itu terjadi, kenapa tidak Pak SBY dan Boediono memikirkan bagaimana mengatasi kenaikan harga bahan pokok akhir-akhir ini? Bagaimana menghadapi serbuan Cina sebagai dampak dari CAFTA? Bagaimana mengatasi kemungkinan PHK ratusan ribu bahkan jutaan buruh? Bagaimana mengatasi perubahan iklim dan kerusakan hutan kita? Bagaimana dengan pasokan gas dan kekayaan alam yang terus menerus dirampok? Apa itu semua mau diatasi dengan mengeluarkan album baru Pak?