Friday, June 12, 2009
Monday, April 6, 2009
Pemilu dan Masa Depan Politik Kita
Friday, February 20, 2009
NASIB AFFIRMATIVE ACTION PASCA PUTUSAN MK
Thursday, February 19, 2009
SUARA TERBANYAK DAN DEMOKRASI KITA
Tuesday, September 16, 2008
Bersama (SBY - JK) Kita Bisa….BANGKRUT!
Sekarang, empat tahun kemudian kita menyaksikan betapa keadaan tak seperti yang diharapkan. Ekonomi kita tetap tak membaik untuk rakyat kecil, hanya bagus di kertas (makro ekonomi) dan bagi pengusaha besar. Rakyat tetap terhimpit dan terjepit karena tekanan ekonomi. Pasar tenaga kerja tetap saja terbatas bahkan perusahaan asing terus menerus mengepak barang dan pindah ke tempat lain yang lebih menjanjikan. Pendidikan tetap dan bahkan semakin mahal. Secara umum, tidak ada pemerintahan sebelum SBY - JK yang mampu menyaingi keberhasilan mereka dalam hal:
- Menurunkan tingkat kemiskinan. Kegagalan merespon dan mengelola isu BBM membuat rakyat yang tadinya mampu makan 3 kali sehari menjadi hanya 1 kali sehari. Yang tadinya makan dengan porsi yang lengkap menjadi hanya nasi dan lauk sekadarnya. Yang tadinya mampu mengais rejeki kecil-kecilan menjadi kehilangan kemampuan berusaha bahkan jadi peminta-minta. Yang tadinya mampu berobat sendiri sekarang harus mengurus surat miskin untuk mendapatkan asreskin. Yang tadinya mampu menyekolahkan anak hingga sarjana sekarang berhenti di SMU. Ya, tingkat kemiskinan memang jadi menurun sebab berpindah jadi di bawah garis kemiskinan. Selama 4 tahun pemerintahan SBY, berdasarkan angka optimistik kita berhasil menambah orang miskin sebanyak 2 juta keluarga. Hebat!
- Menambah kekayaan para menteri dan pejabat lainnya. Bahkan selama rezim maling Soeharto, tidak ada mentrinya yang jadi orang terkaya di Indonesia. Akumulasi penambahan kekayaan para pejabat selama era pemerintahan ini jauh mengalahkan kekayaan para pejabat rezim-rezim sebelumnya. Selamat untuk Abu Rizal Bakrie!
- Meningkatkan angka peminta sedekah dan pengantre. Belum ada rezim, bahkan sejak revolusi kemerdekaan yang berhasil membuat rakyat di seantero negeri berbaris rapi mengais kemurahan hati pemerintah, seperti yang kita saksikan saat antre BLT, Raskin, kompensasi BBM, minyak tanah dan sebagainya. Bahkan sebagian orang kaya ikut-ikutan jadi dermawan hingga menyebabkan orang miskin tewas terinjak-injak dan kehabisan oksigen seperti di Pasuruan kemarin.
- Menaikkan APBN tanpa menggerakkan ekonomi. APBN SBY- JK naik 3 kali lipat hingga hampir 1000 trilyun dibanding pemerintahan sebelumnya, tetapi tidak ada jalan, jembatan atau infrastruktur baru yang bertambah sehingga tidak mempu mendorong ekonomi riel. Hampir semua proyek infrastruktur adalah warisan rezim sebelumnya. Para kepala daerah dan perbankan berlomba-lomba menyimpan uang di dalam bentuk SBI (sertifikat Bank Indonesia) yang membebani ekonomi dan bukannya menggunakannya untuk menggerakkan ekonomi riel atau kegiatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan.
- Menambah kelas menengah secara signifikan. Kebijakan kredit konsumtif yang dipaksakan oleh IMF dan konconya berhasil menambah kelas menengah dari hasil utangan (kredit). Mereka yang secara ekonomi sebenarnya belum mampu untuk membeli mobil, motor atau rumah sekarang jadi mampu dengan akibat bertambahnya orang sakit jiwa, berkurang/hilangnya tabungan, menurunnya kemampuan hidup wajar, dsb. Jumlah pemilik HP, televisi, komputer dan alat elektronik lainnya memang bertambah, dengan mengurangi jatah makan, rekreasi atau berobat bahkan rekreasi.
- Menambah jumlah TKI dan TKW. Saat ini berjuta-juta rakyat miskin Indonesia, dan jumlahnya terus bertambah, harus mencari nafkah di luar negeri karena situasi ekonomi di dalam negeri tidak semakin membaik secara riel. Rakyat kecil tak punya peluang mendapat nafkah yang wajar karena ekonomi tidak bergerak. Begitupun, jumlah yang disiksa, mati sia-sia dan terusir seperti budak semakin bertambah. Brain drain semakin meningkat karena kaum intelektual dan profesional memilih hengkang ke negeri orang dari pada bersakit-sakit di negeri sendiri.
- Menaikkan jumlah pengusaha kecil yang bangkrut. Meroketnya harga-harga dan pasokan listrik yang tidak stabil dan sulit diprediksi membuat banyak pengusaha kecil yang kelimpungan dan akhirnya bangkrut. Listrik yang menjadi urat nadi home industry dipaksa membuang waktu produktif dan kemampuan berproduksi secara optimal karena kebijakan byar-pet yang rajin dilakukan petinggi PLN. Tapi syukurlah, sekarang ada KUR yang bisa dipakai meskipun fundamental usaha tak diperbaiki. Paling tidak ada perpanjangan nafas bagi rakyat, apalagi ini menjelelang pemilu dan ekonomi dunia di ambang resesi.
Nah, itu baru sebagian kecil keberhasilan. Keberhasilan lain yang tak kalah memalukan bisa dilihat dari pidato manis SBY saat mengumumkan sumbangan kepada perkembangan energi dunia lewat penemuan blue energy. Belum lagi sumbangan pada perkembangan pangan dunia lewat penemuan luar biasa padi Super Toy HL. Entah apalagi penemuan yang membuat kagum dunia yang akan dipropagandakan oleh SBY di masa depan.
Jadi, bagi anda yang memilih SBY dan berniat memilihnya lagi saya ucapkan selamat. Bersama kita bisa bangkrut!
Monday, January 14, 2008
Perkara (dari pada) Soeharto!
Lagi-lagi mereka mendapat panggung baru di luar kamar perawatan Soeharto yang penuh dengan nyamuk pers. Inilah teater politik paling anyar di awal tahun baru. Sakitnya Soeharto kali in begitu dramatis, persis kisah sinetron yang ditunggu-tunggu ibu rumah tangga untuk mengisi waktu. Tetapi bagi elit dan selebritis politik ini adalah sebuah momen “masuk TV” (meminjam istilah Tukul), gratis dan punya efek tertentu.
Bagi para pendukung Soeharto ini adalah kesempatan menunjukkan loyalitas vertikal, disamping tentunya mencoba mengail pengaruh dari sisi horizontal dan jika mungkin ke bawah. Banyak yang muncul karena utang budi, ikut menikmati kuasa dan uang selama orde baru. Ada pula yang berharap mendapat cipratan asset maupun proyek politik saat klan Soeharto memikirkan bagaimana mereka survive pasca meninggalnya sang empu. Maklum, Soeharto dan jaringannya mempunyai sumber daya yang sangat luas dan semuanya perlu dipertahanken maupun diselamatken daripada segala tikus-tikus yang menghadang. Menarik melihat bagaimana dinasti Soeharto menyusun strategi survival.
Sakitnya Soeharto juga kesempatan emas buat pihak berkuasa, katakanlah SBY-JK dan mesin pemerintahan serta politiknya. Berbuih-buih SBY berbicara dalam konferensi pers resmi kepresidenan untuk menunjukkan betapa dia peduli dengan kesehatan dan masalah hukum sang maestro yang tak berdaya itu. Seketika, semua orang yang menghujat perilaku kekuasaan atau korban Soeharto menjadi seperti pesakitan. Mendadak penegakan hukum dan pemberantasan korupsi menjadi “bukan agenda prioritas pemerintah”saat ini. Entah apa agenda politik yang tersimpan di balik wajah serius sang presiden saat itu. Apapun itu, yang jelas menurut saya adalah blunder yang tidak perlu. SBY gagal merekam dan mengartikan gugatan publik terhadap Soeharto selama ini. Seolah-olah semuanya semata-mata karena dendam atau sikap sirik. Dia lupa jutaan orang yang tertindas, terpinggirkan dan berdarah-darah selama masa kekuasaan sang diktator. Dia lupa kekayaan negara yang terkuras, alam yang porak poranda karena penghisapan dan pengabaian dan seterusnya. Mungkin inilah cara SBY untuk mengambil hati para pengikut dan pengagum Soeharto.
Kita mendengar banyak orang bicara perlunya memaafkan Soeharto, agar kita ingat dan bersyukur atas jasa-jasanya. Mungkin orang-orang ini lupa bahwa dosa sang jendral bintang lima tak kalah luar biasa, bahkan mungkin lebih. Orang lupa bahwa Soeharto berjasa karena dia duduk sebagai presiden. Untuk posisi itu dia sudah mendapatkan segalanya sesuai kepatutan, bahkan mungkin lebih dari sekedar patut. Anak-anak dan kroninya kaya raya, berkuasa dan bisa berbuat apapun. Nah, yang belum terjadi adalah mempertanggung jawabkan bagian yang buruk dari perilaku dan kebijakan selama dia berkuasa. Soeharto harus menjalani proses hukum sebagaimana layaknya warga negara yang lain. Ini menjadi penting sebagai tonggak awal reformasi. Tidak ada reformasi yang otentik tanpa mengurai akar kebusukan orde baru, yakni perilaku kekuasaan dan kebijakan orde baru. Pohon baru hanya bisa tumbuh kalau akar yang busuk itu sudah diangkat keluar. Jika Soeharto dan mesin kekuasaan orde baru telah mempertanggung jawabkan perbuatannya, barulah dimungkinkan rekonsiliasi nasional. Membuat peta jalan baru untuk Indonesia ke depan. Inilah yang tidak terjadi sehingga reformasi mati suri dan para penikmat orde baru bisa kembali berjaya.
Jika hanya soal kemanusiaan, Soeharto bisa dimaafkan dengan amnesti (jika terbukti bersalah!). Tetapi menghentikan proses hukumnya adalah dosa sejarah yang termaafkan. Kita tidak bisa membiarkan penguasa dan mantan penguasa lepas dari jeratan hukum dan berharap rakyat percaya pada sistem hukum yang kita miliki. Korea Selatan bisa maju dengan langkah ini, demikian juga Afrika Selatan. Masa lalu harus diputus dengan membongkar akarnyanya yang busuk. Memaafkan Soeharto tanpa proses hukum dan keterbukaan hanya akan menjadikan kita bahan tertawaan. Membuat sejarah penuh dengan dendam, misterius dan bisik-bisik. Bangsa yang penuh luka seperti ini akan sulit bergerak maju.
Saya berdoa agar Soeharto tetap hidup sampai kasus hukumnya dituntaskan.
Friday, December 28, 2007
SELAMAT TAHUN BARU
Bagi sebagian orang waktu begitu cepat berlalu, hampir tak terasa. Bagi banyak orang lainnya waktu serasa lamban beranjak. Penguasa saat ini dan pengusaha semacam Abu Rizal Bakrie mungkin masuk kategori pertama. Bagi korban lapindo dan ibu-ibu yang menjerit dengan lonjakan harga tentu waktu serasa malas berganti.
Tahun 2007 adalah tahun yang penuh guncangan. Tahun yang sulit dan penuh nestapa bagi kebanyakan orang Indonesia. Ekonomi yang diberitakan membaik tak kunjung menyapa rakyat miskin dengan bersahabat. Antrean penganggur mengalahkan antrean minyak tanah. Jutaan mimpi tetap terkubur di belantara harapan tanpa pernah tahu kapan mendapat peluang jadi kenyataan. Begitupun, sang presiden masih sibuk bersilat lidah tentang angka kemiskinan yang menjemukan. KPK masih tetap bergulat dengan para pendekar korupsi yang tak kunjung jera. Mahkamah Agung tak bosan-bosannya mengaduk-aduk rasa keadilan dan menjadi bagian persoalan sistemik. Gerak pembangunan stagnan oleh ketakutan birokrat dan parlemen tetap sibuk memanjakan diri. Bencana tak kunjung usai dan selalu membuat kita terheran-heran karena begitu sulitnya bangsa ini belajar dari pengalaman masa lalu.
Tahun lalu bukanlah tahun prestasi. Anak negeri terus dirundung gelap seperti langit Jakarta akhir-akhir ini. Tak ada kepemimpinan yang mencerahkan dan tak ada pengelolaan energi sosial yang inovatif. Cerita kekuasaan tahun ini adalah cerita muram. Tak heran kaum mudanya menggeliat dan berteriak sekaligus beronani politik. Kaum tani tak bisa tersenyum, buruh menahan nafas, nelayan tersenal-sengal dihantam harga BBM dan ombak tak bersahabat. Entah dimana bersembunyinya harapan. Bangun pagi terasa kaki malas melangkah dan malam sulit menjemput tidur. Macet dimana-mana karena jalanan diserobot busway dan BBM terus melambung tinggi. Kartu kredit juga ikut-ikutan macet karena digoda oleh rayuan konsumerisme yang edan-edanan.
Pemerintah punya waktu dan sumber daya untuk berbuat. Tapi aparat seperti kehilangan minat memperbaiki nasib negeri. Semua sibuk memperkaya diri dan bersiap-siap menyongsong pemilihan umum yang masih dua tahun lagi. Entah apa dosa lahir di negeri ini, hidup susah dan matipun masih menghadapi masalah. Kalau sudah begini apa kita butuh pemerintah dan partai politik? Apa relevansinya punya sistem hukum dan demokrasi?
Tetapi perubahan adalah milik kita anak negeri. Jika kita terus berjuang di tempat kita masing-masing dan pada waktunya bersama bergerak maju, bukan tak mungkin masa depan menjadi milik kita. Mari kita rebut kesempatan dan kita singkirkan pengabaian.
Selamat Tahun Baru 2008.
Wednesday, December 12, 2007
Mega Menyapa Rakyat?
Demikian jawaban Megawati atas kritik Andi Mallarangeng terhadap safari “Mega Menyapa Rakyat” yang dilakukan mantan Presiden RI itu. Safari Megawati menemui basis partainya dan rakyat kecil, dari ujung barat ke ujung timur pulau jawa itu memang melahirkan pro dan kontra. Banyak yang berpendapat seperti Andi, sang jubir istana bahwa manuver Megawati tak lebih dari sekedar tebar pesona, mencari kesempatan menyerang lawan saat pemerintah menghadapi banyak persoalan. Ada lagi yang berpendapat bahwa itu adalah sebuah langkah mencuri start kampanye. Tetapi tidak kurang pula yang berpendapat bahwa langkah Ketua Umum PDI Perjuangan itu adalah hal yang lumrah dan positif.
Dari sudut pandang komunikasi dan etika politik, saya cenderung berpendapat bahwa langkah Megawati itu adalah pantas dan sudah seharusnya. Mengapa? Adalah tugas partai dan kandidat politik untuk berkomunikasi secara intensif dengan rakyat, terutama basis partainya. Apa jadinya kalau partai/kandidat politik baru sibuk turun ke bawah hanya menjelang pemilu? Partai/kandidat yang baik tentu akan melakukan pengembangan citra dan positioning di antara dua pemilu, bukan dua bulan menjelang pemilu. Dari sudut pandang “penantang”, tentulah sah untuk mencoba merayu dan meyakinkan pemilih jauh-jauh hari, sebab incumbent memiliki peluang tak terbatas untuk melakukan hal yang sama selama 5 tahun masa jabatannya.
Kegiatan turun ke bawah ini justru bisa menguntungkan semua pihak. Rakyat diuntungkan oleh publikasi dan saluran politik yang menyertai kegiatan itu, sehingga aspirasi mereka bisa didengar. Dari sisi pelaku kegiatan “turba” ini, mereka bisa “menguji” loyalitas konsituen, mendapatkan input public dan memeriksa mesin partainya. Disamping tentu saja, publisitas dan popularitas.
Dari sisi pemerintah, ini adalah kesempatan untuk mendapatkan masukan tentang kekuatan dan kelemahan pelaku kegiatan. Tak kalah pentingnya tentu mendapatkan masukan tentang issu yang up to date sebagai bahan pengembangan kebijakan public. Bagi kompetitor Megawati, kegiatan ini dapat menjadi cermin bagi realitas internal dan eksternal mereka sendiri. Rakyat pun tentu akan senang jika semua partai dan kandidat politik semakin sering turun ke bawah. Media senang karena selalu punya berita baru, pakar juga terus mendapat order analisis.
Yang menjadi persoalan adalah jika Megawati dan PDI Perjuangan tidak melakukan follow up terhadap kunjungan-kunjungan itu. Dengan segera konstituen dan public akan mengukur kadar keseriusan dan kualitas Mega dan PDI Perjuangannya. Langkah selanjutnya adalah, Megawati harus menggerakkan seluruh sumber daya politiknya untuk memenagkan hati dan pikiran massa. Komponen legislative partai harus secara serius mendorong lahirnya legislasi, terutama anggaran yang pro rakyat. Komponen eksekutifnya tentu harus dirangsang untuk menghasilkan kebijakan public yang berpihak pada peningkatan kemakmuran rakyat. Struktural partainya hendaklah dilecut agar “hadir” dalam relaitas massa, tidak terasing dari konstituen dan public. Semua ini perlu dilakukan jika tak hendak disamakan dengan SBY yang gandrung tebar pesona.
Kita juga layak menantikan partai-partai yang lain melakukan hal serupa, turun ke “bumi” dan membuat politik (actor, proses, output dan kelembagaannya) menjadi “relevan” bagi masyarakat. Sudah terlalu lama politik kita terkonsentrasi pada kekuasaan (power politics) dan cenderung abai pada persoalan nyata rakyat (people’s politics). Politik sebagaimana dikatakan J. Leimena, adalah cara untuk mengabdi lewat kekuasaan. Sebuah panggilan moral dan ideologis. Bukan semata-mata cara memperoleh, mempertahankan dan memperbesar kekuasaan. Jika hanya untuk kekuasaan, politik dan demokrasi tidak akan ada manfaatnya bagi rakyat kecil seperti anda dan saya.
Thursday, November 8, 2007
YANG MUDA YANG KEBELET
Momen peringatan Sumpah Pemuda yang lalu menjadi ajang kampanye elit kaum muda Jakarta. Wacana publik tentang kepemimpinan kaum muda dilontarkan tanpa henti melalui media massa. Ini adalah puncak dari kegelisahan para anak muda itu tentang lambannya transformasi sosial politik di Indonesia.
Secara substantif, tidak ada yang salah dari lengkingan suara kelompok muda itu. Wajar kiranya mereka menggugat waktu yang tersia-sia oleh elit tua pasca reformasi yang semakin kehilangan orientasi. Tetapi begitupun banyak hal yang perlu dikritik dari kampanye yang mereka, elit muda itu wacanakan. Persepsi yang muncul adalah seolah-olah pergantian kekuasaan adalah seperti bertukar tempat duduk di bioskop atau konser musik. Kaum tua tinggal bergeser ke belakang karena menghalangi pemandangan atau mengganggu ruang gerak orang muda yang hendak trence. Ini pikiran aneh, semudah itukah? Persepsi lainnya adalah, muncul kesan meminta-minta peran dan posisi. Apalagi jika dikaitkan dengan proposal yang dilontarkan salah satu tokohnya, Sunardi Rinakit tentang komposisi kesebelasan kaum tua dan muda dalam pemerintahan dan kabinet. Tak terelakkan, banyak yang menganggap bahwa ini adalah strategi tersembunyi untuk mengangkat posisi tawar para penggiat kampanye itu. Meskipun, belum tentu demikian.
Sebagai sebuah gerakan, saya kira ini akan gagal sebab tidak memiliki kapital sosial politik yang memadai. Seharusnya para elit muda itu menunjukkan dulu track record dan kapasitasnya lalu secara alamiah muncul dalam kompetisi elit. Mereka juga harus mengajak serta kamu muda dari berbagai penjuru seperti birokrasi, partai politik, perguruan tinggi, organisasi sosial keagamaan, kepemudaan dan institusi-institusi lain yang memiliki peran strategis dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka harus membangun visi bersama, membuat peta jalan (road map) serta skenario-skenario untuk lalu kembali ke habitat masing-masing guna berkarya dan merebut kekuasaan. Bagi yang sudah kebelet karena sudah berusia di atas 40 tahun, cobalah berkarya secara luar biasa. Masih ada 2 tahun sebelum 2009.
Kampanye tanpa dukungan substansial seperti ini menurut saya hanyalah onani politik yang menjemukan. Bukankah kita harus melihat dulu apa yang dilakukan oleh Anis Baswedan di Paramadina atau Chalid Muhammad di WALHI? Apakah mereka bisa lebih besar dari itu dan lebih besar dari dirinya sendiri? Kalau ya, tentu perlu didukung. Kalau biasa-biasa saja, nanti dulu! Tidak ada jaminan bahwa mereka bisa keluar dengan gagasan-gagasan otentik dan terobosan-terobosan efektif dalam mengurai dan menyelesaikan masalah bangsa. Siapa yang bisa menjamin orang-orang seperti Sunardi Rinakit itu tidak akan terjerembab dalam lumpur politik kita yang ganas itu?
Saya tidak hendak mengatakan kepada para elit muda itu supaya jangan muncul atau berteriak soal regenarasi. Itu perlu bahkan harus. Tetapi lebih dari itu mereka harus bergerak secara otentik baik dari segi gagasan maupun gerakan. Harus ada orkestrasi untuk mensinergikan kekuatan-kekuatan kaum muda di seluruh penjuru secara inklusif. Dibutuhkan kepemimpinan dan pengorganisasian yang jelas dengan agenda yang sistematis melalui aksi-aksi dan karya yang kongkrit. Saatnya orang muda untuk “berproduksi” sambil bicara! Bukan cuma teriak dan merengek.
Friday, October 5, 2007
Reformasi Pemilih (dan Partai Politik) di Indonesia
Sebelum lebih jauh berdiskusi, ada baiknya penulis mengutarakan pentingnya pemahaman mendasar bahwa partai politik adalah salah satu faktor yang determinan dalam konstruksi politik yang demokratis. Tidak ada negara demokratis — yang menjamin proses-proses politik yang legitimate dan damai — yang berjalan tanpa peran partai politik. Partai politik adalah wadah civil society, yang bekerja atas dasar belahan-belahan ideologis dan kepentingan-kepentingan dalam masyarakat. Terutama menyangkut urusan-urusan publik di bidang ekonomi, sosial dan kenegaraan. Dengan adanya partai politik, pengelolaan perbedaan kepentingan dan ideologi dalam masyarakat dapat dikelola secara beradab melalui mekanisme atau prosedur demokrasi – bukan melalui politik massa (mob) di jalanan. Melalui partai politik rekrutmen kepemimpinan bisa dilakukan dan alternatif-alternatif kebijakan dihasilkan sehingga pemilih bisa menentukan pilihannya.
Reformasi partai politik atau peradaban politik?
Artikel Toto Sugiarto yang disinggung di atas banyak mengupas perilaku-perilaku menyimpang partai-partai politik kita. Hal-hal yang sudah menjadi pengetahuan publik secara luas dan juga banyak terjadi bahkan di negara-negara demokrasi mapan sekalipun. Tentu penulis tidak bermaksud untuk meng-amini bahwa praktek-praktek tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Tetapi hendaknya dipahami bahwa perilaku menyimpang tersebut bukanlah sesuatu yang khas milik partai politik di Indonesia. Apalagi mengingat bahwa partai-partai politik kita telah drop-out dari ”sekolah politik/demokrasi” selama lebih dari tiga puluh tahun kekuasaan orde baru.
Saya sepakat dengan usulan-usulan reformasi partai yang dilontarkan oleh Toto Sugiarto. Tetapi saya melihat bahwa usulan-usulan tersebut melulu hanya bersifat internal partai politik, seolah-olah reformasi partai politik hanya bisa dan harus dilakukan dari dalam. Menurut hemat saya, reformasi partai politik akan lebih kencang terjadi jika ada paksaan eksternal seperti perilaku pemilih, media massa, sistem politik (pemilu dan kepartaian), pengaruh lingkungan global dan sebagainya. Dengan demikian, pemikiran bahwa reformasi partai politik hanya mungkin dilakukan oleh parpol itu sendiri adalah sebuah simplifikasi yang berbahaya. Karena dengan demikian, carut marut partai politik melulu hanya menjadi tanggung jawab parpol saja. Padahal, menurut hemat saya, perilaku partai politik dan politisi itu tak lain dan tak bukan adalah cerminan peradaban kita sendiri sebagai bangsa secara keseluruhan. Dan karenanya, menjadi tanggung jawab kita semua juga secara tanggung renteng. Masalah kepartaian mendasar yang kita hadapi adalah tidak adanya belahan ideologis yang jelas dan relevan, terkait dengan bagaimana mengelola republik ini menuju kemakmuran. Perbedaan hanya terlihat secara artifisial berkaitan dengan idelogi kebangsaan, yaitu kubu nasionalis atau agamis. Tetapi bahkan partai yang mengusung ideologi agamis juga selalu berikrar setia terhadap format NKRI seperti sekarang ini. Di luar itu, semua partai politik bicara tentang ekonomi kerakyatan, kemandirian, kedaulatan, keadilan, keberpihakan pada rakyat kecil (duafa) dan sebagainya. Inilah yang menurut saya menjadi akar masalah partai-partai politik kita. Keadaan di atas adalah hasil dari interaksi dua hal, pertama, menurunnya kecerdasan ideologis di dalam tubuh partai-partai kita. Kedua, meningkatnya budaya pragmatisme dan primordialisme di kalangan pemilih di Indonesia. Masalah pertama menyebabkan dunia politik kita melulu diwarnai oleh kepentingan politik kekuasaan (state politics) dan sedikit sekali berbicara kepentingan politik pemilih (people’s politics). Indikasinya bisa dilihat dari wacana yang muncul dalam political discourse kita yang lebih banyak bicara tentang siapa dan bagaimana (elitis). Pilkada DKI dan ribut-ribut soal interpelasi Iran atau koalisi kebangsaan Jilid I dan II bisa menjadi contoh nyata kecenderungan ini. Pada saat yang sama, dalam politik kita sedikit sekali wacana tentang apa dan kenapa (ideologis). Ambil contoh tentang kasus impor beras dan konversi minyak tanah yang hanya konsisten didukung oleh partai oposisi.
Masalah kedua menyebabkan pemilih cenderung menjatuhkan pilihannya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan praktis, bukan atas dasar rasionalitas pencapaian kepentingannya. Tidak heran jika kemudian konstalasi pemilih kita di era reformasi cenderung tidak berubah dan mengulang situasi tahun 1955. Hasil survey perilaku pemilih yang dilakukan beberapa lembaga juga membuktikan betapa pragmatisnya pemilih kita. Situasi ini juga dijelaskan oleh temuan Bill Liddle dan Syaiful Mudjani (2005), yang menunjukkan bahwa kepemimpinan (leadership) dan identitas kepartaian (party ID) adalah dua faktor paling kuat yang menentukan preferensi pemilih. Akibatnya jelas, partai akan semakin sulit melakukan pembenahan dari dalam karena kebutuhan dari pasar politiknya (konstituen/pemilih) sangat minimalis. Untuk itu, pendidikan politik bagi masyarakat pemilih menjadi kebutuhan yang tidak lagi bisa ditawar jika ingin melakukan reformasi partai politik.
Di sisi lain, sistem politik kita juga berkontribusi sangat besar bagi perilaku partai politik kita. Sistem yang ada sekarang cenderung tambal sulam dan menyumbang terhadap stagnasi dan dekadensi partai politik kita. Mudahnya pembentukan partai politik dan longgarnya aturan yang mendukung pelembagaan dan pendewasaan partai politik juga patut menjadi bahan telaah. Mungkin perlu dipikirkan agar dibuat aturan bahwa partai politik hanya boleh mencalonkan orang-orang yang memiliki kartu anggota dan menjadi anggota partai sekurang-kurangnya dua tahun. Hal ini diperlukan untuk mendorong penataan sistem kaderasi dan akuntabilitas rekrutmen kepemimpinan politik. Dengan demikian partai akan dipaksa untuk berbenah dan tidak sekedar menjadi batu loncatan para pemburu kekuasaan. Juga diperlukan reformasi dalam penyusunan daftar calon legislatif dengan membagi seimbang antara popular vote dengan party vote. Hal ini diharapkan mampu mendorong transparansi, akuntabilitas dan internal democracy dalam partai politik. Lebih jauh, sistem ini juga akan memaksa politisi dan partainya untuk semakin dekat dan akuntabel terhadap konstituen/pemilih.
Saya percaya bahwa faktor luar (external factors) lebih manjur dalam mendorong reformasi partai politik. Reformasi yang bertumpu dari dalam seringkali hanya menghasilkan polesan-polesan untuk mempercantik diri. Contohnya bisa kita lihat dari inkonsistensi pelaksanaan konvensi Partai GOLKAR serta diabaikannya mekanisme internal partai yang demokratis oleh elit partai. Sebaliknya demokrasi yang didorong dari luar cenderung mampu mengubah paradigma kepartaian secara menyeluruh, sebab taruhannya adalah hidup mati partai itu. Sedangkan reformasi internal cenderung hanya urusan hidup mati elit partai saja. Mungkin pengalaman New Deal (Bill Clinton) dan New Labour (Tony Blair) bisa jadi rujukan bagi partai-partai kita.
Keterlibatan pemilih dalam partai politik dan proses-proses politik juga sangat besar pengaruhnya dalam mendorong reformasi partai politik. Semakin dalam dan luas partisipasi publik maka akan semakin mendorong partai politik untuk berbenah. Dengan demikian partai akan lebih dipaksa untuk terbuka dan relevan dengan pemilihnya. Karena itu, anjuran untuk menjadi golput sangatlah bertentangan dengan semangat memperbaiki kondisi partai politik. Gerakan tidak memilih hanya akan mempertahankan status quo saat ini sebab partai juga akan dipaksa untuk berbuat minimalis. Yang diperlukan saat ini adalah active voters sebagai implikasi dari perilaku effective citizenship. Ini berarti perubahan kebudayaan politik.